Berdasarkan data rukun nelayan setempat, terdapat sekitar 2.000 perahu yang aktif beroperasi setiap harinya. Namun, kolam labuh yang tersedia hanya memiliki kapasitas untuk 300 perahu, atau hanya 15 persen dari total kebutuhan.
Akibatnya, sebagian besar perahu harus ditambatkan agak ke tengah laut. "Apabila datang gelombang tinggi, ada perahu terhanyut hilang. Ini yang sering dikeluhkan nelayan sini," kata Abdul Karim di Cianjur, Selasa.
Kehilangan Perahu Berarti Kehilangan Mata Pencaharian
Abdul Karim menegaskan bahwa kehilangan perahu bagi nelayan sama dengan kehilangan mata pencaharian utama untuk menghidupi keluarga. Oleh karena itu, pembangunan kolam labuh yang memadai dinilai sebagai kebutuhan yang sudah sangat mendesak sejak lama.
Selain memberikan rasa aman, keberadaan pelabuhan juga diharapkan mampu meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke pantai selatan Cianjur. Penataan kawasan dapat dilakukan layaknya pelabuhan lain di Jawa Barat, seperti Pangandaran dan Pelabuhan Ratu.
Nelayan Butuh Alternatif Pendapatan Saat Paceklik
Para nelayan setempat juga memberikan masukan terkait pengembangan wisata bahari. Ketika tidak dapat melaut akibat musim paceklik ikan atau gelombang tinggi, sebagian besar dari ribuan nelayan hanya bisa menganggur karena tidak memiliki keahlian lain.
"Mereka berharap bisa melayani wisata bahari seperti di Pangandaran, sehingga ada tambahan pendapatan saat tidak melaut," ujar Abdul Karim.
DPRD Jabar Akan Terus Dorong Realisasi Proyek
Abdul Karim memastikan pihaknya akan terus mendorong agar pembangunan pelabuhan dan kolam labuh di Pantai Jayanti dapat segera terwujud. Ia berharap selain kawasan pantai tertata, sarana dan prasarana penunjang terus dilengkapi sehingga mampu menarik minat wisatawan.
Pembangunan ini dinilai krusial tidak hanya untuk keselamatan nelayan, tetapi juga untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir Cianjur Selatan yang selama ini bergantung penuh pada hasil laut.