KABUPATEN BANDUNG — Kalimat "Berbohonglah sebelum dilarang!" bukanlah ajakan untuk berdusta. Drajat, Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan (IDIP) Kabupaten Bandung sekaligus Wasekjen Komnasdik, menegaskan bahwa kalimat itu adalah satire. Ia menyindir keadaan negeri yang menurutnya semakin jauh dari kejujuran.
"Yang jujur dianggap mengganggu. Yang kritis dianggap ancaman. Yang mengingatkan malah disingkirkan," tulis Drajat dalam tulisannya yang beredar pekan lalu.
Janji Manis Pemilu yang Lenyap Setelah Kekuasaan Direbut
Drajat menyoroti siklus politik yang ia anggap repetitif. Setiap musim pemilihan, rakyat disuguhi pidato indah dan janji perubahan. Kemiskinan dijanjikan diatasi, pendidikan diperbaiki, dan guru disejahterakan. Namun, setelah kursi kekuasaan diraih, janji itu perlahan menguap.
"Yang dulu lantang membela rakyat, tiba-tiba sibuk membela kekuasaan. Yang dulu akrab dengan kesederhanaan, berubah akrab dengan kemewahan," ujarnya.
Ia menambahkan, rasa malu kini menjadi barang langka. Berbohong dianggap bagian dari strategi. Data dipoles, fakta dibelokkan, dan narasi dimainkan secara terbuka. "Seakan rakyat tidak mampu berpikir," sindirnya.
Pendidikan Dipaksa Kehilangan Daya Kritis
Kritik paling tajam dari Drajat diarahkan pada dunia pendidikan. Ia menilai guru dijanjikan kesejahteraan, namun realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Program-program pendidikan yang bermunculan dinilai megah di permukaan, tetapi miskin arah.
Ia juga menyoroti alih fungsi bangunan sekolah. "Ada sekolah yang berubah menjadi koperasi atau fungsi lain yang jauh dari ruh pendidikan. Seolah yang penting adalah perut kenyang, bukan kepala yang tercerahkan," tulisnya.
Menurut Drajat, bangsa besar tidak dibangun hanya dengan makanan, melainkan dengan ilmu, karakter, dan keberanian berpikir. Ia memperingatkan bahwa jika pendidikan terus diabaikan, target Indonesia Emas 2045 hanya akan melahirkan "generasi cemas", bukan generasi emas.
Anak Muda Kritis Justru Dicurigai
Drajat juga menyoroti nasib generasi muda yang kritis. Alih-alih didukung, mereka justru dicurigai, diintimidasi, atau dianggap mengganggu stabilitas. "Padahal sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa perubahan selalu lahir dari keberanian anak muda," katanya.
Ia menilai sebagian pemimpin lebih nyaman dengan generasi yang diam daripada generasi yang berpikir. "Hubungan antara rakyat dan pemimpin semakin jauh. Negara kehilangan kepekaan," tambahnya.
Harapan di Tengah Satire
Meski tulisannya sarat sindiran, Drajat mengaku harapan belum sepenuhnya hilang. Harapan itu, menurutnya, masih ada pada guru yang mengajar dengan hati, anak muda yang berani berpikir, dan masyarakat yang belum kehilangan nurani.
"Jika semua orang memilih diam, maka kebohongan akan semakin nyaman berkuasa," pungkasnya.