Pencarian

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Dorong Naskah Akademik untuk Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih, Ini Targetnya

Kamis, 14 Mei 2026 • 20:39:59 WIB
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Dorong Naskah Akademik untuk Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih, Ini Targetnya
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi memimpin diskusi percepatan naskah akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih di Museum Pajajaran Batutulis, Bogor.

BOGOR — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong percepatan penyusunan naskah akademik untuk dua artefak bersejarah kebanggaan Jawa Barat, yaitu Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Dorongan itu disampaikan dalam diskusi kecagarbudayaan yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat di Museum Pajajaran Batutulis, Kota Bogor, Kamis (14/5/2026).

Menurut Dedi, pelestarian benda cagar budaya tidak boleh berhenti pada perawatan fisik semata. Dibutuhkan dokumentasi ilmiah yang bisa menjadi rujukan bagi generasi mendatang.

Isi Kajian yang Ditargetkan: Dari Bahan Pembuatan hingga Makna Tulisan

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kajian akademik untuk Prasasti Batutulis harus bersifat komprehensif. Ia meminta tim ahli merinci mulai dari tanggal pembuatan, bahan yang digunakan, siapa pembuatnya, hingga arti dari setiap aksara yang terpahat di batu tersebut.

“Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dari mulai tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa pembuatnya, apa arti tulisannya,” ujar Dedi dalam forum yang dihadiri sejarawan dan budayawan tersebut.

Hal yang sama juga ditargetkan untuk Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Pusaka yang menjadi simbol penting Kerajaan Sunda ini dinilai layak mendapatkan kajian serupa agar fungsinya dalam sejarah tidak hilang ditelan zaman.

Bukan Sekadar Buku, Tapi Turunan Kebijakan Pembangunan Daerah

Yang menarik dari arahan Gubernur Jabar, hasil kajian sejarah itu tidak boleh berhenti di rak perpustakaan. Dedi meminta agar naskah akademik tersebut memiliki turunan kebijakan yang nyata dalam pembangunan daerah.

“Jadi, yang naskah akademik itu nanti harus turunan jadi apa. Kan ini kita ada missing link, ada misi yang terputus,” jelasnya.

Ia menyebutkan, hasil kajian harus bisa dijadikan acuan dalam perencanaan tata ruang, tata bangunan, hingga tata kelola pendidikan dan kesehatan di Jawa Barat, khususnya di kawasan Bogor yang merupakan bekas pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Mengapa Kajian Ini Dianggap Mendesak?

Dedi Mulyadi menilai selama ini ada keterputusan pemahaman antara peradaban masa lalu dengan arah pembangunan masa depan. Menurutnya, setiap tahapan peradaban harus dipahami secara utuh agar bisa menjadi pijakan yang kuat.

“Sehingga tahapan-tahapan peradaban harus kita lalui, harus kita memahami. Yang kedua, bahwa kita memiliki leluhur yang sudah memilih kecerdasan peradaban pada zaman itu. Dan kemudian semuanya harus menjadi karya-karya akademik,” kata Dedi.

Ia berharap, dengan adanya naskah akademik ini, keterhubungan antara sejarah masa lalu dan pembangunan masa depan bisa menjadi satu kesatuan yang utuh dalam identitas Jawa Barat. Diskusi di Museum Pajajaran Batutulis menjadi langkah awal dari proses panjang penyusunan kajian tersebut.

Bagikan
Sumber: bogordaily.net

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks