BANDUNG — Kolaborasi antara Pemprov Jawa Barat dan UPI melahirkan program GEMA Jabar yang langsung mengirimkan mahasiswa ke sekolah-sekolah yang kekurangan guru. Langkah ini diambil setelah kebijakan penghapusan tenaga honorer dari pemerintah pusat membuat banyak sekolah di berbagai daerah kehilangan tenaga pengajar.
Prof. Cecep Darmawan, pengamat pendidikan dari UPI, menyebut program ini lahir dari situasi yang mendesak. Menurutnya, idealnya tenaga honorer diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), namun proses pengangkatan membutuhkan waktu dan anggaran yang tidak sedikit.
"Program ini dilatarbelakangi oleh kebijakan bahwa di semua pemerintahan enggak boleh ada lagi disebut honorer, termasuk di persoalan guru. Idealnya memang yang honorer itu diangkat jadi ASN," ujar Cecep kepada Koran Mandala, Senin (13/7/2026).
Kekurangan Guru Tak Bisa Menunggu Pengangkatan ASN
Proses pengangkatan guru menjadi ASN dinilai memakan waktu lama, sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak bisa berhenti. Kondisi inilah yang mendorong Pemprov Jabar mencari jalan keluar cepat.
"Sehingga kekurangan guru bisa cepat diatasi. Nah, tapi kan itu kebijakannya dari pusat. Akhirnya daerah kena imbasnya. Sementara untuk ngangkat guru butuh waktu, butuh anggaran. Dan proses pembelajaran enggak bisa menunggu waktu seperti itu," katanya.
Cecep menambahkan, kerja sama dengan UPI menjadi pilihan yang paling memungkinkan dalam situasi saat ini. Mahasiswa yang dikirim dianggap mampu meng-handle kelas-kelas yang kosong meski bukan pengganti permanen.
Solusi Ideal Tetap Pengangkatan Guru ASN
Meski mengapresiasi langkah Pemprov Jabar dan UPI, Cecep menegaskan bahwa GEMA Jabar bukanlah solusi final. Menurutnya, kebijakan ini hanya bersifat sementara hingga pemerintah daerah bisa mengangkat guru tetap.
"Walaupun ini tidak ideal. Idealnya tadi guru diangkat menjadi ASN. Jadi ini memang langkah darurat. Saya akui ini tidak ideal, tetapi hanya itu yang bisa dilakukan saat ini," pungkasnya.
Program GEMA Jabar sendiri rencananya akan menyasar sekolah-sekolah di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat yang melaporkan kekurangan tenaga pendidik. Pemprov Jabar dan UPI masih terus mematangkan teknis pelaksanaan serta jumlah mahasiswa yang akan diterjunkan.