JAWA BARAT — Kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran kian mempertebal ketidakpastian pasokan energi global. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi tidak ada komunikasi aktif dengan Iran, namun ancaman blokade pelabuhan dan paket sanksi ekonomi baru tengah disiapkan untuk menekan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan langkah keras tersebut kemungkinan diumumkan pekan ini. Sikap AS yang agresif ini memperkeruh situasi di Selat Hormuz, jalur vital penghubung produsen minyak Teluk Persia dengan pasar dunia, yang kini hanya dilalui sedikit kapal.
Eskalasi UEA dan Ketatnya Pasokan Diesel
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) mengambil sikap tegas dengan menangguhkan seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran. Keputusan ini diambil menyusul eskalasi di kawasan, mengingat posisi UEA yang kerap menjadi sasaran serangan, terutama pada sektor pelayaran di seberang Teluk Persia.
Tekanan harga tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Harga produk olahan, khususnya diesel, melonjak jauh lebih tinggi dan memberikan beban berat bagi pengendara, operator truk, serta sektor industri. Kondisi ini diperparah oleh terganggunya arus pasokan dari Timur Tengah dan penghentian ekspor oleh Rusia menyusul serangan terhadap kilang-kilang minyaknya.
Margin Kilang AS Tembus Rekor, Stok Minyak Menipis
Di AS, margin pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar telah menembus US$ 100 per barel, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Fenomena ini mencerminkan betapa ketatnya pasar produk sulingan global saat ini.
Sementara itu, American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan stok minyak mentah nasional, termasuk di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma. Persediaan produk sulingan yang mencakup diesel juga diperkirakan turun, menambah sinyal ketatnya pasokan di pasar terbesar dunia tersebut.
Dampak ke Inflasi dan Ekonomi Global
Reli harga energi ini berpotensi mengerek tekanan inflasi di berbagai negara, menggerus daya beli masyarakat, dan mempersulit bank sentral dalam mengelola kebijakan moneter. Kenaikan biaya logistik dan produksi akibat mahalnya diesel akan menjalar ke harga barang dan jasa di seluruh rantai pasok.
Kombinasi perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut dengan konflik Timur Tengah yang belum mereda menciptakan risiko ganda bagi keamanan energi dunia. Pelaku pasar kini mencermati setiap perkembangan diplomatik dan militer di kawasan, sembari mengantisipasi potensi gangguan pasokan yang lebih parah.
Investasi dan perdagangan komoditas mengandung risiko.