Pencarian

Milisi Irak Pasang Buntut US$ 10 Juta untuk Pembunuhan Trump, Pemerintah AS Tingkatkan Kewaspadaan

Sabtu, 18 Juli 2026 • 17:54:32 WIB
Milisi Irak Pasang Buntut US$ 10 Juta untuk Pembunuhan Trump, Pemerintah AS Tingkatkan Kewaspadaan
Milisi Irak mengumumkan hadiah US$ 10 juta bagi pelaku yang dapat mengeksekusi Presiden AS Donald Trump melalui kanal propaganda mereka.

JAWA BARAT — Kelompok milisi yang berbasis di Irak secara terbuka mengumumkan hadiah sebesar US$ 10 juta bagi pelaku yang dapat mengeksekusi Presiden AS Donald Trump. Nominal itu setara dengan Rp 179,4 miliar jika dikonversi dengan kurs saat ini. Pengumuman tersebut disebarluaskan melalui kanal-kanal propaganda kelompok, namun belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Irak maupun AS mengenai tingkat kredibilitas ancaman ini.

Imbalan Fantastis untuk Aksi Kontroversial

Angka yang ditawarkan tergolong sangat besar untuk skema hadiah pembunuhan. US$ 10 juta atau sekitar Rp 179,4 miliar jauh melampaui nominal imbalan yang biasanya dipasang oleh organisasi milisi di kawasan. Besaran ini menunjukkan keseriusan kelompok tersebut dalam mendorong aksi terhadap kepala negara AS.

Belum jelas mekanisme pembayaran yang dijanjikan atau bagaimana pelaku bisa mengklaim hadiah tersebut. Namun, penyebaran informasi ini di ruang digital dinilai sebagai bentuk propaganda untuk meningkatkan tensi politik di kawasan.

Respons Keamanan dan Implikasi Diplomatik

Pemerintah AS melalui Dinas Rahasia (Secret Service) dan otoritas keamanan di Timur Tengah langsung meningkatkan kewaspadaan. Personel keamanan di sekitar fasilitas diplomatik dan instalasi militer AS di Irak dan negara tetangga diperketat. Langkah ini diambil sebagai antisipasi standar terhadap potensi ancaman, meskipun belum ada indikasi aksi nyata yang akan segera terjadi.

Di sisi lain, tawaran ini berpotensi memperburuk hubungan antara pemerintah Irak dan AS. Pemerintah Irak selama ini berupaya menjaga keseimbangan antara tekanan dari kelompok milisi domestik dan komitmen keamanan dengan Washington. Pernyataan resmi dari Baghdad belum dikeluarkan hingga berita ini diturunkan.

Latar Belakang Ketegangan yang Berkepanjangan

Ancaman terhadap Presiden Trump bukanlah hal baru. Selama masa jabatannya, Trump kerap menjadi sasaran retorika keras dari kelompok-kelompok milisi di Timur Tengah, terutama setelah serangan pesawat nirawak AS yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani di Irak pada Januari 2020. Peristiwa itu memicu gelombang kemarahan dan seruan balas dendam dari berbagai faksi pro-Iran di Irak dan Suriah.

Penawaran imbalan terbaru ini menjadi indikasi bahwa ketegangan tersebut belum mereda. Kelompok milisi Irak yang dikenal memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sering menggunakan ancaman dan propaganda sebagai alat tekanan politik.

Konteks Keamanan di Irak

Irak masih bergulat dengan kehadiran kelompok-kelompok milisi bersenjata yang beroperasi di luar kendali penuh pemerintah pusat. Beberapa dari kelompok ini secara terbuka memusuhi kehadiran militer AS dan menyerukan perlawanan bersenjata. Situasi keamanan di Irak tetap rapuh, dengan serangan roket dan pesawat nirawak terhadap pangkalan yang menampung pasukan koalisi pimpinan AS masih kerap terjadi.

Meski tawaran imbalan ini belum tentu berujung pada aksi nyata, penyebarannya di ranah publik menunjukkan bahwa kelompok milisi masih memiliki kapasitas untuk memobilisasi opini dan potensi ancaman di kawasan. Pemerintah AS diperkirakan akan terus memonitor situasi melalui saluran intelijen dan diplomatik.

Bagikan
Sumber: news.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks