WASHINGTON DC — Pertemuan pertama antara Netanyahu dan Trump sejak perang AS-Israel melawan Iran berlangsung hampir satu setengah jam. Gedung Putih menyebut diskusi berjalan "positif dan produktif", namun tidak merilis rincian resmi agenda.
Apa yang Dibahas dalam Pertemuan Tertutup Itu?
Meski tidak ada pernyataan resmi, Netanyahu mengunggah video di akun Instagram pribadinya seusai pertemuan. Ia menekankan kesamaan pandangan dengan Trump soal isu strategis kawasan.
"Ini adalah percakapan dengan kemitraan penuh, dukungan timbal balik, dan pemahaman mengenai tujuan bersama untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir," kata Netanyahu, Rabu (29/7/2026).
Seorang pejabat Israel yang tak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Netanyahu menegaskan kepada Trump bahwa Israel akan merespons jika Iran kembali menyerang. Namun, keputusan langkah militer selanjutnya tetap dipercayakan kepada presiden AS.
Mengapa Pertemuan Ini Krusial bagi Netanyahu dan Trump?
Pertemuan ini berlangsung di tengah situasi politik dalam negeri yang memanas. Netanyahu menghadapi tekanan menjelang pemilu Israel, sementara Trump didesak publik AS untuk mengakhiri perang dengan Iran yang dinilai membebani perekonomian dan memicu inflasi.
Israel berkomitmen terus berbagi informasi intelijen dengan Washington, meski memahami bahwa AS memiliki pertimbangan strategis sendiri sebelum mengambil keputusan militer. Sikap ini menunjukkan adanya ruang tawar-menawar yang ketat di antara kedua sekutu.
Apa Dampaknya bagi Kawasan Timur Tengah?
Pembahasan mengenai Abraham Accords—kesepakatan normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab—menjadi sorotan. Langkah ini bisa memperluas peta politik di Timur Tengah jika Trump kembali mendorong negara-negara seperti Arab Saudi untuk bergabung.
Namun, isu Gaza juga tak kalah pelik. Tanpa rincian lebih lanjut, publik masih menunggu apakah ada perubahan pendekatan AS-Israel terhadap konflik di Palestina pasca-perang melawan Iran.