JAWA BARAT — Praktisi parenting Machnun Uzni, Founder Sahabat Misykat Indonesia, menegaskan bahwa keluarga, lingkungan, dan sekolah adalah tiga pilar yang saling terkait erat dalam membentuk karakter dan prestasi anak. Ketiganya bekerja seperti sebuah ekosistem—jika salah satu tidak berfungsi optimal, tumbuh kembang anak bisa ikut terpengaruh.
Pernyataan ini disampaikannya dalam siaran Indonesia Cerdas di Samarinda, Rabu (12/8/2026). Menurutnya, peran orang tua memiliki nilai strategis dalam menaruh harapan agar anak berprestasi.
Kondisi Keluarga yang Beragam: Tidak Ada Standar Tunggal
Setiap rumah tangga punya latar belakang yang berbeda. Ada anak yang tumbuh bersama kedua orang tua lengkap, namun tidak sedikit pula yang diasuh oleh orang tua tunggal—ayah atau ibu seorang diri.
Perbedaan kondisi ini bukan berarti anak tidak bisa berprestasi. Yang terpenting adalah bagaimana pola pengasuhan dan dukungan emosional diberikan sesuai dengan situasi keluarga masing-masing. Lingkungan sekitar juga berperan besar dalam mengisi celah yang mungkin tidak terpenuhi di rumah.
Pembekalan Pengasuhan Justru Minim Setelah Menikah
Machnun menyoroti satu ironi: banyak pasangan mendapat pembekalan komunikasi dan persiapan rumah tangga melalui seminar pranikah. Namun, setelah resmi menikah dan memiliki anak, pendidikan tentang pengasuhan justru jarang didapat.
Padahal, mengasuh anak adalah keterampilan yang terus berkembang. Orang tua perlu terus belajar, terutama ketika anak memasuki usia remaja dan menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Kecerdasan Utuh: Bukan Sekadar Nilai Akademik
Sudah saatnya orang tua melepas paradigma lama yang mengukur kecerdasan anak hanya dari angka di rapor. Pendidikan keluarga harus mengarahkan anak memiliki kecerdasan yang utuh, meliputi tiga aspek sekaligus: spiritual, intelektual, dan emosional.
Anak yang cerdas secara intelektual tetapi lemah secara emosional akan kesulitan mengelola stres dan membangun relasi. Begitu pula anak yang cerdas secara spiritual namun tidak didukung kemampuan berpikir kritis. Ketiganya harus berjalan beriringan.
Tantangan Teknologi: Peran Orang Tua Tak Tergantikan
Perkembangan teknologi mengubah cara anak berinteraksi dengan informasi. Anak usia dini hingga remaja kini bisa mencari jawaban atas berbagai persoalan mereka lewat gawai dan internet. Fungsi keluarga sebagai pemberi informasi pun perlahan tergantikan.
Namun, teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran emosional orang tua. Kasih sayang, keteladanan, dan pendampingan tetap menjadi kebutuhan mendasar yang tidak bisa dipenuhi oleh mesin pencari atau media sosial.
Anak tetap butuh orang tua yang memahami perasaannya, bukan sekadar menyediakan fasilitas. Karena itu, orang tua perlu meningkatkan kapasitas diri—bukan hanya dalam hal pengasuhan dan pengawasan, tetapi juga memahami teknologi yang dikuasai anak-anak mereka.
Pekerjaan Rumah Bersama untuk Generasi Cerdas
"Bagaimana kita menyiapkan sebuah keluarga, orang tua yang siap melahirkan generasi yang cerdas. Karena itu ini menjadi peran kita bersama," ujar Machnun.
Menyiapkan generasi cerdas bukan tugas sekolah semata, melainkan tanggung jawab kolektif orang tua, lingkungan, dan institusi pendidikan. Dengan memahami bahwa ketiganya saling melengkapi, orang tua bisa lebih bijak dalam menyikapi tumbuh kembang anak—bukan menuntut prestasi, tetapi menciptakan ekosistem yang mendukung anak untuk berkembang sesuai potensinya.