BANDUNG — Menjadi Ketua OSIS tidak cukup hanya dengan nilai akademik tinggi atau pandai berbicara. Ada satu hal yang kerap disampaikan Drajat saat berbicara dengan pengurus OSIS: wibawa. Menurutnya, wibawa adalah elemen yang tidak bisa ditulis dalam rapor, tetapi menentukan apakah seorang pemimpin benar-benar didengar atau sekadar dipatuhi karena jabatan.
Drajat yang juga Wasekjen Komnasdik dan Master Hipnoterapis ini menegaskan bahwa wibawa tidak bisa diminta atau muncul begitu saja karena seseorang memakai tanda pengenal. Wibawa tidak lahir dari kursi paling depan atau sekadar mandat yang diberikan. Ia tumbuh dari perilaku sehari-hari dan bisa dibangun, tetapi juga bisa hilang dalam sekejap.
Keteladanan Kunci Membangun Wibawa di Lingkungan Sekolah
Di lingkungan sekolah, Ketua OSIS memegang mandat dari teman-temannya untuk mengoordinasikan program dan menyampaikan aspirasi. Drajat mengingatkan bahwa kepercayaan ini harus dijawab dengan sikap, bukan sekadar program kerja. "Kalau kalian ingin dihormati, belajarlah menghormati," pesannya.
Ia menekankan bahwa wibawa dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan. Jangan menuntut teman disiplin jika diri sendiri sering terlambat. Jangan berbicara tentang kejujuran jika masih gemar mencari alasan. Pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu menjadi contoh, bukan sekadar pemberi perintah.
Kesediaan Memperbaiki Diri Jadi Benteng Terakhir Wibawa
Drajat mengakui bahwa seorang pemimpin boleh memiliki kekurangan dan sesekali salah mengambil keputusan. Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang: kesediaan untuk memperbaiki diri. Justru di situlah wibawa sejati diuji—ketika seorang pemimpin mampu mengakui kesalahan dan berbenah.
Pesan ini relevan tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga bagi siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan di berbagai level. Wibawa yang dibangun dari keteladanan akan membuat seorang pemimpin dihormati bahkan ketika ia tidak berada di depan, sebuah modal penting untuk menggerakkan organisasi secara efektif.