JAWA BARAT — Petani di Desa Kasreman, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, kini punya cara baru untuk menekan biaya produksi pertanian. Mahasiswa KKN UNS Kelompok 184 mengajak mereka mengolah limbah organik di sekitar rumah menjadi pupuk cair yang siap pakai, tanpa perlu membeli bahan kimia mahal.
Kegiatan ini berawal dari keresahan akan tingginya harga pupuk di pasaran. Padahal, bahan baku pembuat pupuk justru melimpah di lingkungan sekitar—mulai dari daun lamtoro yang biasa dijadikan pakan ternak hingga kulit pisang yang kerap dibuang begitu saja.
Bahan Sederhana, Hasil Fermentasi Dua Pekan
Pelatihan dibuka dengan pemaparan teori singkat tentang manfaat dan prinsip pembuatan POC. Redi, narasumber dalam kegiatan tersebut, kemudian mendemonstrasikan langsung proses pencampuran bahan hingga tahap fermentasi.
Daun lamtoro gung dipilih karena kaya nitrogen, sementara pelepah dan kulit pisang menjadi sumber kalium alami. Air tepung beras berperan sebagai sumber karbon yang membantu mikroorganisme menguraikan bahan organik selama proses fermentasi.
Arina Madu, mahasiswa yang merancang program kerja pelatihan ini, menjelaskan bahwa pemilihan bahan bukan tanpa alasan. "Kami ingin memberikan pengetahuan yang tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga bisa langsung dipraktikkan oleh petani. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah ditemukan, sehingga diharapkan masyarakat dapat membuat POC secara mandiri," ujarnya.
Setelah semua bahan tercampur, larutan disimpan dalam wadah tertutup selama kurang lebih dua pekan. Mikroorganisme bekerja menguraikan bahan organik menjadi senyawa sederhana yang lebih mudah diserap tanaman.
Uji Coba ke Tanaman Jeruk, Hasilnya Dievaluasi
POC yang telah difermentasi kemudian diaplikasikan pada dua tanaman jeruk pada Sabtu (1/8/2026). Sebelum digunakan, kondisi pupuk diperiksa terlebih dahulu. Hasilnya, POC berwarna cokelat dengan aroma asam yang sedikit menyengat—tidak busuk dan tidak lagi menghasilkan gas, menandakan proses fermentasi berjalan sempurna.
Fadiilah Nur Rohmah, Ketua KKN 184 Desa Kasreman, mengatakan program ini menjadi sarana belajar bersama bagi mahasiswa dan warga. "Kami berharap kegiatan pembuatan POC ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh para petani, terutama dengan menggunakan bahan-bahan organik yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar," katanya.
Para petani yang terlibat tampak antusias. Mereka berpartisipasi aktif mulai dari menyiapkan bahan, mencampurkan larutan, hingga mengaplikasikan POC ke tanaman jeruk. Langkah selanjutnya, warga akan mengamati perkembangan tanaman secara berkala sebagai bahan evaluasi untuk menentukan apakah POC layak digunakan pada jenis tanaman lain.
Dukung Ketahanan Pangan dan Lingkungan
Program ini sejalan dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan (SDGs). Pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung praktik pertanian berkontribusi pada SDG 2 tentang Zero Hunger, sekaligus mendorong pola produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab sesuai SDG 12.
Penggunaan bahan organik alami juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang berisiko merusak tanah dalam jangka panjang—sejalan dengan SDG 15 tentang Life on Land. Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan petani ini pun menjadi contoh nyata kemitraan yang memperkuat ekosistem pertanian desa.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi ajang mengasah kemampuan komunikasi dan menerapkan ilmu perkuliahan di tengah masyarakat. Bagi petani, pelatihan ini membuka peluang untuk memproduksi pupuk secara mandiri dan berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pasokan pupuk kimia yang harganya kerap fluktuatif.