JAWA BARAT — Baktiku Negeriku 2026 berbeda dari program CSR korporasi pada umumnya. Telkomsel tidak hanya menyerahkan bantuan perangkat atau dana, tetapi menerjunkan langsung karyawannya untuk tinggal dan bekerja bersama warga desa selama beberapa pekan. Targetnya jelas: mencetak 100 agen perubahan digital atau "digital champion" baru di setiap desa dampingan.
VP Corporate Communications Telkomsel, Saki H. Bramono, mengatakan program ini adalah bentuk nyata komitmen perusahaan untuk pembangunan desa yang berkelanjutan. "Kami ingin transformasi digital tidak hanya sampai di kota, tapi juga dirasakan oleh masyarakat di pelosok," ujarnya dalam keterangan resmi.
Yang Dikerjakan di Desa: dari Pemasaran Online hingga Administrasi Digital
Selama di Cianjur, para karyawan Telkomsel akan mendampingi pelaku UMKM desa untuk mengelola pemasaran produk melalui platform digital. Mereka juga membantu perangkat desa dalam digitalisasi administrasi kependudukan dan pelayanan publik.
Program ini menyasar desa-desa dengan indeks pembangunan manusia (IPM) rendah dan akses internet yang masih terbatas. Dengan pendekatan kolaborasi karyawan, Telkomsel berharap dampak program bisa lebih terukur dan berkelanjutan, bukan sekadar seremonial tahunan.
Dampak Langsung: UMKM Desa Bisa Jualan ke Luar Kota
Salah satu hasil yang ditargetkan adalah peningkatan omzet UMKM desa hingga 30 persen dalam enam bulan setelah pendampingan. Caranya, dengan menghubungkan produk lokal ke platform marketplace dan aplikasi MyTelkomsel.
Bagi warga desa, kehadiran program ini berarti akses ke pelatihan digital gratis yang biasanya hanya tersedia di perkotaan. "Kami belajar bikin katalog produk dan foto pakai HP sendiri. Sekarang pesanan bisa masuk dari Jakarta," kata seorang peserta pelatihan di Desa Sukamaju, Cianjur.
Rencana ke Depan: Ekspansi ke 50 Desa di 2026
Telkomsel menargetkan program Baktiku Negeriku bisa menjangkau 50 desa di seluruh Indonesia pada akhir 2026. Fokus utama tetap pada desa tertinggal dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Program ini juga sejalan dengan arahan Kementerian BUMN untuk mendorong peran perusahaan pelat merah dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) desa. Dengan model pemberdayaan berbasis karyawan, Telkomsel mencoba membuktikan bahwa CSR tidak harus selalu berbentuk dana, tapi bisa berupa waktu dan keahlian.