PANGANDARAN — Deburan ombak di pesisir selatan Jawa Barat bukan lagi sekadar pemandangan alam, melainkan ancaman abrasi dan intrusi air laut yang menggerus keseharian nelayan dan warga Desa Pamotan. Namun, di tengah ancaman itu, 5.000 bibit mangrove jenis Rhizophora kini mulai ditancapkan di lumpur pesisir Kecamatan Kalipucang.
Penanaman massal ini merupakan bagian dari program PNM Green Impact yang mengusung tema "Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang". Pemimpin Cabang PNM Tasikmalaya, Ara Koswara, menegaskan kawasan Kalipucang membutuhkan intervensi ekologis serius.
"PNM Green Impact adalah wujud nyata kepedulian kami. Kami tidak hanya fokus pada permodalan usaha nasabah, tetapi juga bertanggung jawab menjaga ruang hidup tempat mereka tinggal dan mencari nafkah," ujar Ara dalam keterangan yang diterima, baru-baru ini.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Pesisir
Aksi penanaman ini melibatkan berbagai elemen strategis. Mulai dari Kepala Dinas Sosial dan PMD Kabupaten Pangandaran Trisno, Camat Kalipucang Ruhendi, Wadandim Kalipucang Asep Saepudin, hingga Kepala Desa Pamotan Andi Suandi. Sebanyak 30 relawan Tagana di bawah komando Nana Suryana juga diterjunkan, didukung penuh oleh Rini Purnamasari (Manager Regional Mekaar Tasikmalaya II) dan Hatta Hidayat (Manager Bisnis ULaMM).
Menurut Trisno, langkah ini menjadi teladan konkret dalam memperkuat ketahanan kawasan pesisir Pangandaran dari ancaman bencana ekologis.
Empat Manfaat Langsung bagi Ekosistem dan Warga
Program ini dirancang bukan sekadar seremoni musiman, melainkan investasi jangka panjang dengan multi-manfaat. Pertama, akar mangrove yang rapat berfungsi sebagai perisai alami peredam gelombang ekstrem dan penahan intrusi air asin ke sumur warga.
Kedua, kawasan mangrove yang subur menjadi tempat pemijahan dan pembesaran (spawning dan nursery ground) bagi ikan, udang, dan kepiting bakau. Ketiga, pulihnya ekosistem laut otomatis meningkatkan hasil tangkapan nelayan serta membuka peluang ekowisata berbasis komunitas.
Keempat, mangrove berperan aktif menyerap emisi karbon untuk menstabilkan iklim global—yang kerap disebut sebagai paru-paru biru atau carbon sink.
Komitmen Perawatan Jangka Panjang
PT PNM Cabang Tasikmalaya bersama Tagana dan Pemerintah Desa Pamotan berkomitmen melakukan pemantauan dan perawatan berkala untuk memastikan seluruh bibit tumbuh optimal. Langkah ini membuktikan bahwa BUMN tidak hanya hadir untuk kinerja finansial, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ekologis.
Di balik perannya sebagai pilar penggerak ekonomi kerakyatan melalui pembiayaan ultra mikro dan program Mekaar bagi ibu-ibu prasejahtera, ada filosofi yang dipegang teguh: ekonomi yang tangguh tidak akan berdiri di atas lingkungan yang rapuh.