JAWA BARAT — Logam tanah jarang atau rare earth element (REE) kini menjadi komoditas paling strategis di era modern. Karakteristik magnetik dan konduktifnya yang unik membuat elemen ini tak tergantikan untuk memproduksi gawai pintar, baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga jet tempur canggih.
Meski tersebar di seluruh kerak bumi, konsentrasi alami logam tanah jarang sangat jarang ditemukan dalam jumlah besar yang ekonomis untuk ditambang. Hal ini memicu perebutan pengaruh ekonomi dan geopolitik antarnegara pemilik cadangan terbesar.
China Tak Tergoyahkan, Brasil Muncul Sebagai Raksasa Baru
China kokoh di puncak dengan cadangan sekitar 44 juta metrik ton, mencakup hampir separuh total pasokan dunia. Posisi ini belum tertandingi oleh negara mana pun.
Di posisi kedua, Brasil mencatatkan diri sebagai raksasa baru dengan potensi cadangan mencapai 21 juta metrik ton. Melalui pengoperasian komersial di deposit Pela Ema, negara bagian Goiás, Brasil menargetkan produksi tahunan hingga 5.000 metrik ton oksida tanah jarang pada tahun 2026. Langkah ini menjadikan Brasil sebagai salah satu wilayah di luar China yang mampu memproduksi empat mineral magnetik paling kritis.
India Kejar Ketergantungan Impor, Indonesia Ikut Daftar
India menempati peringkat ketiga global dengan total cadangan diperkirakan mencapai 6,9 juta metrik ton, sebagian besar terkandung dalam deposit pasir mineral. Pemerintah India kini gencar memacu riset domestik untuk mengoptimalkan metode ekstraksi dan pemurnian mandiri, guna mengurangi ketergantungan impor magnet elemen tanah jarang yang mencapai 53.000 metrik ton.
Indonesia disebut sebagai salah satu negara tetangga yang masuk dalam daftar pemilik cadangan logam tanah jarang terbesar dunia. Meski data cadangan spesifik Indonesia tidak dirinci dalam laporan Stars Insider pada Selasa (2/6), keberadaan Indonesia di peta global ini menegaskan potensi besar yang dimiliki.
Logam tanah jarang merupakan mesin tersembunyi bagi dunia modern. Karakteristiknya yang unik membuat elemen ini menjadi kunci dalam produksi perangkat elektronik, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan nasional. Perebutan penguasaan cadangan logam tanah jarang diprediksi akan semakin memanas seiring percepatan transisi energi hijau dan digitalisasi global.