JAWA BARAT — Dulu orang terbang ke kota lain demi pantai, kuliner, atau landmark ikonik. Kini, tak sedikit yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengejar garis finis Hyrox. Ajang fitness racing asal Jerman ini mengubah cara orang memilih destinasi liburan.
Hyrox pertama kali diluncurkan di Hamburg, Jerman, pada 2017 oleh Christian Toetzke dan Moritz Fürste. Sejak saat itu, kompetisi ini berkembang pesat dan kini digelar di puluhan kota di Eropa, Amerika Utara, Asia, hingga Australia.
Apa Itu Hyrox dan Mengapa Digemari?
Hyrox adalah kompetisi fitness race yang menggabungkan lari dan latihan fungsional dalam satu format perlombaan yang sama di seluruh dunia. Peserta harus menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer, dan setelah setiap putaran lari wajib menyelesaikan satu stasiun latihan fungsional.
Karena formatnya identik di semua negara, peserta dapat membandingkan catatan waktu mereka dengan peserta lain di berbagai belahan dunia. Slogannya, fitness racing for every body, menegaskan kompetisi ini dirancang untuk berbagai tingkat kemampuan, dari pemula hingga atlet berpengalaman.
Delapan Stasiun Latihan yang Harus Dilalui Peserta
Sepanjang lomba, peserta menghadapi delapan stasiun latihan fungsional yang menjadi ciri khas Hyrox:
- SkiErg: mendayung menggunakan mesin ski ergometer sejauh 1.000 meter
- Sled Push: mendorong sled berbobot sejauh 50 meter
- Sled Pull: menarik sled dengan tali menggunakan kekuatan tangan dan punggung
- Burpee Broad Jumps: kombinasi burpee dan lompatan ke depan sejauh 80 meter
- Rowing: mendayung sejauh 1.000 meter menggunakan mesin dayung
- Farmer's Carry: berjalan sambil membawa beban di kedua tangan sejauh 200 meter
- Sandbag Lunges: lunges sejauh 100 meter dengan sandbag di bahu
- Wall Balls: 100 kali squat disertai lemparan bola medis ke target
Hyrox di Indonesia dan Asia
Hyrox kian digemari, termasuk penggila olahraga di Indonesia. Perhelatan itu digeber di Jakarta pada 27-28 Juni lalu. Popularitasnya terlihat dari semakin banyak figur publik yang menjajalnya, seperti Luna Maya, Marianne Rumantir, Cinta Laura, Irfan Bachdim, dan Jennifer Bachdim.
"Di situ ada gabungan lari dan latihan strength. I love both," ujar Jennifer Bachdim di sela Ionation 2026 yang digelar di NICE PIK 2, dikutip dari Wolipop.
Kota-kota seperti Hamburg, Paris, Manchester, Singapura, Sydney, Brisbane, Bilbao, hingga Poznan pernah menjadi tuan rumah Hyrox. Puncak kompetisinya digelar melalui Hyrox World Championships yang berpindah-pindah lokasi setiap tahun.
Wisata Olahraga sebagai Tren Baru
Perjalanan demi Hyrox menjadi bagian dari perubahan cara orang berwisata. Tammy Ng, Vice President Brand and Marketing Hyatt Asia Pacific, menyebut wisatawan kini memilih destinasi berdasarkan minat, komunitas, dan tujuan pribadi.
"Perjalanan untuk Hyrox adalah bagian dari perubahan cara orang berwisata. Kini banyak orang memilih destinasi berdasarkan minat, komunitas, dan tujuan pribadi mereka, bukan hanya untuk melihat-lihat tempat wisata," kata Tammy Ng, dikutip dari South China Morning, Sabtu (12/9).
Menurut dia, wisata kebugaran kini tidak lagi identik dengan spa atau retret kesehatan. Wisatawan juga mencari pengalaman yang melibatkan aktivitas fisik, performa olahraga, pemulihan tubuh, dan interaksi sosial.
Andres Becerra, koki dan pengusaha restoran yang berbasis di Bali, telah mengikuti Hyrox di Bangkok, Shanghai, Hong Kong, hingga Perth. Baginya, Hyrox menjadi arena berkumpul dengan teman-teman sekaligus mengenal destinasi baru.
"Kami berlatih bersama, bepergian bersama, lalu menjelajahi kota-kota baru di sekitar lokasi perlombaan," ujarnya.
Bagi traveler yang ingin mencoba Hyrox race-cation, informasi jadwal lomba terdekat dapat dicek melalui situs resmi Hyrox. Pastikan juga memesan akomodasi dan tiket jauh hari, karena event ini kerap menarik ribuan peserta dari berbagai negara.