JAKARTA — Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia itu menyampaikan analisisnya dalam Kajian Pengembangan Wawasan bertajuk 'Ketahanan Iran dalam Menghadapi Perang Berlarut: Tinjauan Strategis Mahfuz Sidik', Jumat (17/7/2026) malam. Ia menyebut situasi di Teluk Persia saat ini tidak lagi menunjukkan perang skala besar, melainkan serangkaian konflik kecil yang sulit dihindari.
"Konflik di Teluk Persia akan terus menjadi isu panas dan konflik berkepanjangan. Situasi yang terjadi sekarang, kita sebut sebagai konflik bebas atau konflik yang membeku," kata Mahfuz Sidik.
MoU Hanya Bertahan Sepekan
Mahfuz menjelaskan, MoU yang diteken kedua pihak pada 17 Juni lalu praktis hanya bertahan selama tujuh hari. Poin keempat dalam kesepakatan tersebut, kata dia, secara jelas memberikan kewenangan kepada Iran untuk berkoordinasi dengan Oman guna memastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"MoU sudah selesai, nota kesepahaman ini sudah berakhir, praktis hanya bertahan selama sepekan," ujarnya.
Pelanggaran di Selat Hormuz Picu Eskalasi
Menurut Mahfuz, ketegangan kembali memuncak setelah Organisasi Maritim Internasional—lembaga maritim PBB yang didukung AS—mengizinkan empat kapal melintasi Selat Hormuz tanpa berkoordinasi dengan Iran. Langkah ini dinilai sebagai pelanggaran sepihak terhadap isi MoU.
Iran kemudian memberikan hukuman atas pelanggaran tersebut. Hal inilah yang disebut Mahfuz memicu reaksi Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran.
"Inilah yang kemudian memicu reaksi Presiden Donald Trump menyerang Iran," katanya.
Trump Minta Kongres Lanjutkan Perang
Mahfuz mengungkapkan, pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat untuk melanjutkan perang telah diaktifkan kembali. Presiden Trump bahkan telah meminta Kongres AS untuk menyetujui penggunaan kekuatan militer guna menyerang Iran.
"Trump punya waktu 60 hari ke depan sejak tanggal 10 Juli untuk melakukan serangan militer ke Iran. Berdasarkan undang-undang Amerika, Trump punya hak untuk mengerahkan kekuatan militer sampai 10 September mendatang," kata Mahfuz.
Potensi Eskalasi Tak Terkendali
Meskipun saat ini konflik disebut membeku, Mahfuz memperingatkan bahwa situasi tetap rawan. Ia menilai konflik-konflik kecil yang terjadi bisa memicu eskalasi yang tidak terkendali kapan saja.
"Tetapi tetap membuka kemungkinan terjadinya eskalasi yang tidak terkendali," katanya.