KUNINGAN — Seorang kepala daerah di Jawa Barat ini sedang memikul mimpi yang tidak kasatmata. Bukan soal infrastruktur atau anggaran, melainkan kebangkitan sepak bola Kuningan seperti era kejayaan belasan tahun silam. Namun di balik semangat itu, ada kelelahan yang ia bagikan lewat pesan singkat.
Percakapan itu berlangsung sederhana. Sang Bupati tidak memamerkan keberhasilan. Ia justru bercerita tentang proses yang tidak pernah dilihat publik: bagaimana sponsor dicari, bagaimana kepercayaan dibangun, dan bagaimana berbagai pihak diajak bergerak bersama.
Kegundahan di Balik Usaha yang Tak Tampak
Yang paling menarik bukanlah target kemenangan di lapangan. Melainkan kalimat yang ia sampaikan di sela-sela obrolan: bahwa di tengah semua usaha, masih ada cibiran yang harus diterima. Kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan, lebih menyerupai pengakuan seorang pemimpin yang sadar tidak mungkin menyenangkan semua orang.
"Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula ruang untuk disalahkan," demikian makna yang tertangkap dari percakapan tersebut.
Alih-alih sibuk menjawab setiap kritik, ia memilih tetap bekerja. Ia mengaku lebih nyaman berada di belakang layar. Baginya, yang lebih penting bukan siapa yang mendapat tepuk tangan, melainkan apakah Kuningan benar-benar bergerak maju.
Karakter Pemimpin yang Teruji oleh Cibiran
Seorang pemimpin tidak hanya memikul program kerja. Ia memikul harapan ribuan orang yang belum tentu semuanya percaya. Ia harus tetap tersenyum ketika dikritik, tetap melangkah ketika diragukan, dan tetap bermimpi ketika sebagian orang memilih pesimis.
Tentu, seorang Bupati bukan manusia tanpa kekurangan. Kebijakannya tetap harus diawasi, programnya tetap harus dikritisi. Itulah esensi demokrasi. Namun demokrasi juga mengajarkan keadilan: ketika ada kerja nyata, sudah sepantasnya diakui.
Percakapan singkat itu mengubah cara pandang penulis. Bukan soal politik atau strategi pemerintahan, melainkan sisi manusia dari seorang pemimpin yang sedang memikul mimpi untuk daerah yang dicintainya.
Penulis: Dadan Satyavadin