CIANJUR — Kepastian itu disampaikan Kepala Disdikpora Cianjur Ruhli Solehudin, Senin (16/9). Pihaknya masih menunggu regulasi lanjutan dari pemerintah pusat terkait mekanisme penghapusan tenaga honorer. Hingga saat ini, belum ada surat resmi terbaru yang diterbitkan.
“Kami masih menunggu aturan turunan. Yang jelas, sejak awal tahun kami sudah tidak menerima honorer baru,” kata Ruhli.
Mengapa Sekolah Masih Butuh Guru Honorer?
Meski penerimaan dihentikan, kebutuhan tenaga pengajar di Cianjur tetap tinggi. Banyak guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) yang memasuki masa pensiun setiap tahun. Kondisi ini membuat sekolah negeri, terutama di tingkat SD dan SMP, masih sangat bergantung pada guru honorer.
Disdikpora mencatat, saat ini sekitar 1.500 guru honorer masih diberdayakan. Mereka tersebar di setiap kecamatan dan mengajar menggunakan honor yang bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Nasib 1.500 Guru Honorer: Antara PPPK dan Ketidakpastian
Sebagian besar dari ribuan guru itu telah lama mengabdi, namun belum diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), baik penuh waktu maupun paruh waktu. Status mereka hingga kini belum jelas.
Pemerintah daerah berjanji akan terus memperjuangkan agar mereka mendapat kepastian. Salah satu skenario yang diupayakan adalah pengangkatan secara bertahap menjadi PPPK paruh waktu, sesuai aturan yang berlaku.
“Kami akan berupaya mereka mendapat kepastian. Sekolah masih membutuhkan mereka karena kekurangan guru di sejumlah wilayah,” ujar Ruhli.
Arahan untuk Guru Honorer: Tetap Mengajar Sambil Menunggu
Sembari menunggu kebijakan lanjutan dari pusat, Disdikpora meminta seluruh guru honorer di Cianjur tetap menjalankan tugas seperti biasa. Pemerintah daerah disebut terus mencari solusi terbaik agar mereka tetap bisa diberdayakan di sekolah masing-masing.
Kebijakan penghentian penerimaan honorer baru ini merupakan bagian dari penataan ASN secara nasional. Namun, di lapangan, kebijakan itu berhadapan langsung dengan kebutuhan riil sekolah yang terus kehilangan guru pensiun.