GARUT — Akses transportasi di wilayah selatan Garut terus mengalami perbaikan guna menunjang produktivitas masyarakat perdesaan. Salah satu titik yang kini sudah bisa dinikmati warga adalah jalan hotmix di Kampung Cijeruk, RT 01 RW 05, Desa Wangunjaya, Kecamatan Pakenjeng.
Infrastruktur jalan sepanjang 300 meter tersebut menjadi urat nadi baru bagi warga setempat. Kepala Desa Wangunjaya, Dadang Sutisna, menyatakan bahwa perbaikan jalan ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi waktu tempuh dan kenyamanan mobilitas harian penduduk di tengah kontur wilayah yang menantang.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang telah diberikan dari Imamudin Kamil Anggota DPRD dari Fraksi PKS . Bagi kami yang memiliki wilayah luas dengan kontur perbukitan dan sebaran penduduk yang berjauhan, pembangunan jalan sangatlah penting,” ujar Dadang saat diwawancarai pada Kamis (7/5/2026).
Mengapa Jalan Hotmix Cijeruk Sangat Vital bagi Ekonomi Desa?
Kondisi geografis Desa Wangunjaya yang berbukit membuat akses infrastruktur menjadi tantangan utama dalam distribusi hasil bumi. Sebelum adanya pengaspalan hotmix pada akhir tahun 2025 lalu, kendaraan pengangkut seringkali kesulitan menjangkau titik-titik pemukiman dan lahan pertanian warga.
Kini, setelah jalan tersebut layak dilalui, para petani dan pelaku usaha kecil di Kampung Cijeruk merasakan penurunan biaya logistik dan kemudahan dalam memasarkan produk mereka ke luar desa. Kendaraan roda empat kini dapat masuk langsung ke area pemukiman tanpa terkendala medan jalan yang rusak.
“Sekarang kami tidak lagi kesulitan membawa hasil pertanian. Akses sudah bagus, kendaraan juga bisa masuk dengan mudah,” ungkap salah seorang warga Kampung Cijeruk yang merasakan langsung perubahan tersebut.
Kolaborasi Anggota Dewan dan Pemerintah Desa Percepat Pembangunan
Dadang Sutisna menjelaskan bahwa pembangunan jalan ini tidak lepas dari peran aktif wakil rakyat dalam mengawal usulan pembangunan di tingkat kabupaten. Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa dan anggota legislatif sangat diperlukan untuk menutup celah keterbatasan anggaran daerah.
Pihak Desa Wangunjaya mengakui bahwa percepatan pembangunan di pelosok tidak bisa hanya bertumpu pada satu sumber pendanaan saja. Dibutuhkan intervensi dari berbagai pihak agar kualitas hidup masyarakat di wilayah terpencil bisa setara dengan wilayah perkotaan.
“Kami berharap perhatian seperti ini terus berlanjut. Pembangunan di desa tidak bisa hanya mengandalkan Dana Desa, perlu dukungan dari berbagai pihak agar merata hingga ke pelosok,” tutur Dadang menambahkan.
Pemerintah Desa Wangunjaya optimis bahwa dengan konektivitas yang semakin baik, sektor-sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan juga akan ikut terdongkrak. Akses jalan yang mumpuni menjadi fondasi utama bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan.