Bandung — Kehadiran KA Sangkuriang menandai era baru transportasi kereta api lintas Jawa Barat dan Jawa Timur. Kereta ini berangkat dari Bandung pukul 14.45 WIB setiap hari dan tiba di Ketapang, Banyuwangi, menempuh jarak 1.002 kilometer dalam waktu sekitar 16 jam perjalanan.
Rute Strategis Lintas Enam Daerah Operasi
KA Sangkuriang dirancang sebagai jalur yang menghubungkan berbagai kota besar di Pulau Jawa dalam satu rangkaian perjalanan tanpa henti. Manager Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menjelaskan keunikan layanan ini terletak pada jangkauan lintas daerah operasi yang luas.
"KA Sangkuriang terlihat istimewa karena dia melintasi enam daerah operasi. Jadi keberangkatan dari Daop 2, kemudian ke Daop 5, Daop 6, Daop 7, Daop 8, dan terakhir di Daop 9," kata Kuswardojo. Pola perjalanan dilakukan dua arah secara reguler dengan keberangkatan dari Ketapang pukul 15.00 WIB.
Tiga Pilihan Kelas dengan Harga Terjangkau
Kereta ini menyediakan total 456 kursi yang tersebar dalam tiga kategori kelas. Kelas ekonomi memiliki 240 kursi dengan tarif mulai Rp450.000, sementara kelas eksekutif menawarkan 200 kursi dengan harga mulai Rp700.000.
Untuk penumpang yang menginginkan kenyamanan maksimal, tersedia 16 kursi suite compartment dengan tarif mulai Rp2.250.000. Penetapan harga disesuaikan dengan jenis layanan dan fasilitas masing-masing kelas untuk memberikan opsi bagi berbagai segmen penumpang.
Alternatif Transportasi Darat Bandung-Banyuwangi
Kehadiran KA Sangkuriang memberikan solusi baru bagi masyarakat yang selama ini membutuhkan perjalanan panjang dari Jawa Barat ke Jawa Timur bagian timur. Masyarakat kini memiliki pilihan transportasi darat yang langsung menghubungkan kedua wilayah tanpa perlu berganti moda transportasi di tengah perjalanan.
Kuswardojo menyebutkan bahwa KA Sangkuriang menjadi kereta dengan jarak tempuh kedua terpanjang di Indonesia saat ini. Pencapaian ini menempatkan layanan baru KAI sebagai salah satu rute kereta paling ambisius yang diluncurkan dalam waktu dekat, memperkuat konektivitas lintas wilayah Pulau Jawa yang sebelumnya belum terhubung dengan layanan kereta api langsung.