Harga Minyak Dunia Kembali Naik, Konflik Selat Hormuz dan Serangan Houthi ke Kilang Arab Saudi Jadi Pemicu

Penulis: Ivan Setiawan  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 11:13:01 WIB
Petugas memeriksa area sekitar kilang minyak Jazan di Arab Saudi pascainsiden kebakaran yang dipadamkan pada Minggu (9/8) dini hari.

JAWA BARAT — Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan energi kembali menghantui pasar. Harga minyak Brent tercatat naik 1,2% ke level US$ 84,54 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,9% ke US$ 78,90 per barel pada pukul 10.05 waktu Singapura.

Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang menyebut kesepakatan dengan Oman untuk membentuk rute pelayaran melalui Selat Hormuz hampir tercapai. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak akan serta-merta membuka kembali jalur perairan strategis tersebut, meredam harapan pasar akan normalisasi arus energi dalam waktu dekat.

Blokade dan Ancaman yang Belum Usai

Iran kembali menegaskan syarat-syaratnya untuk membuka penuh Selat Hormuz, termasuk mengakhiri blokade laut oleh Amerika Serikat, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Sikap ini muncul di tengah isyarat Presiden AS Donald Trump yang mengaku mengambil pendekatan "low-key" terhadap Teheran, setelah sebelumnya melontarkan ancaman serangan militer.

Washington memang mengklaim terlibat dalam pembicaraan soal pengelolaan selat tersebut, namun klaim itu langsung dibantah Teheran. Di lapangan, risiko konflik masih nyata. Sebuah kapal tanker yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Co. menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.

"Selama kita belum melihat arus pasokan benar-benar kembali normal, saya pikir risiko geopolitik akan terus menjadi penopang harga minyak mentah," ujar Chief Investment Officer Karobar Capital LP yang berbasis di Chicago, Haris Khurshid, dikutip dari Bloomberg.

Insiden di Kilang Arab Saudi

Panasnya situasi tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan milik Arab Saudi. Kementerian Energi Arab Saudi membenarkan terjadi kebakaran di fasilitas tersebut yang berhasil dipadamkan pada Minggu (9/8) dini hari, meski tidak merinci penyebabnya.

Ini merupakan insiden kedua di fasilitas yang sama dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, citra satelit menunjukkan kebakaran pada sebuah tangki di Jazan pada akhir Juli, yang juga diklaim sebagai serangan oleh Houthi.

Bantalan Pasokan Menipis

Sebelum konflik memanas, sekitar seperlima minyak dan gas alam dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Pasar sejauh ini masih selamat dari krisis pasokan ekstrem, ditopang oleh lemahnya permintaan dari China dan pelepasan cadangan minyak darurat. Namun, bantalan pasokan global kini mulai menipis, membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik.

Dengan risiko konflik yang masih tinggi, para pelaku pasar diperkirakan akan terus waspada. Fluktuasi harga minyak pun berpotensi berlanjut, seiring ketidakpastian yang masih menyelimuti jalur perdagangan energi paling vital di dunia tersebut.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top