PSEL Bogor Ubah 250 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik, Warga Sekitar Tak Keluhkan Bau

Penulis: Haris Maulana  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 18:39:25 WIB
PSEL Bogor mengolah 250 ton sampah per hari menjadi listrik tanpa keluhan bau dari warga sekitar.

BOGOR — Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bogor mulai menunjukkan hasil operasionalnya. Fasilitas yang berlokasi di kawasan Galuga ini mengolah 250 ton sampah per hari tanpa menimbulkan keluhan berarti dari masyarakat sekitar.

Berbeda dengan tempat pembuangan akhir konvensional yang kerap memicu bau dan pencemaran udara, PSEL menggunakan teknologi pembakaran bersuhu tinggi. Proses ini mengurangi volume sampah secara drastis sekaligus menghasilkan uap untuk memutar turbin listrik.

Teknologi Pembakaran yang Terkontrol

PSEL menerapkan sistem insinerasi dengan suhu di atas 850 derajat Celcius. Suhu setinggi itu memastikan pembakaran sempurna sehingga emisi gas berbahaya seperti dioksin dan furan dapat ditekan.

“Kami memonitor emisi secara real-time. Data langsung terkirim ke Kementerian Lingkungan Hidup,” ujar pihak pengelola PSEL dalam keterangan resmi. Sistem ini memungkinkan deteksi dini jika ada parameter yang melampaui ambang batas.

Dampak ke Warga: Tak Ada Bau, Listrik Mengalir

Warga di tiga kelurahan sekitar lokasi proyek mengaku tidak merasakan gangguan bau menyengat. Beberapa dari mereka justru menikmati pasokan listrik yang lebih stabil sejak PSEL beroperasi.

Pemerintah Kota Bogor mencatat, listrik yang dihasilkan PSEL mencapai 7 megawatt. Sebagian daya digunakan untuk operasional pabrik, sisanya dialirkan ke jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di sekitarnya.

Fakta Singkat PSEL Bogor

  • Kapasitas olah sampah: 250 ton per hari
  • Daya listrik yang dihasilkan: 7 megawatt
  • Teknologi: insinerasi suhu tinggi (850°C) dengan pemantauan emisi real-time
  • Lokasi: kawasan Galuga, Kota Bogor

Mengapa PSEL Berbeda dari TPA Biasa?

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) konvensional mengandalkan lahan luas dan proses penguraian alami yang lambat. Metode ini kerap menimbulkan bau, gas metana, dan air lindi yang mencemari tanah.

PSEL justru mempercepat penguraian melalui pembakaran terkontrol. Abu sisa pembakaran pun masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku paving block atau campuran semen. Tidak ada limbah cair yang merembes ke tanah karena seluruh proses berlangsung di ruang tertutup.

Pemkot Bogor menargetkan PSEL mampu mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA hingga 60 persen. Langkah ini sekaligus memperpanjang usia pakai tempat pembuangan akhir yang ada.

Ke depan, pemerintah akan menambah kapasitas pengolahan seiring bertambahnya volume sampah rumah tangga. Warga pun diimbau tetap memilah sampah organik dan anorganik agar proses pembakaran lebih efisien.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: radarbogor.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top