BOGOR — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah mengkaji penerapan teknologi pengolahan sampah berbasis Waste to Energy (WTE) sebagai solusi pengelolaan sampah perkotaan. Program ini diklaim mampu menekan emisi karbon secara signifikan dan mendukung target zero emission daerah.
Lebih Ramah Lingkungan Dibanding TPA Konvensional
Pihak Pemkot menyebut bahwa teknologi WTE memiliki tingkat kebersihan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan TPA biasa. Proses pembakaran sampah pada suhu tinggi dalam WTE disebut mampu meminimalisir polusi udara dan lindi yang kerap menjadi masalah di TPA terbuka.
“Program ini hadir untuk mengakomodasi kebutuhan pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan,” ujar perwakilan Pemkot Bogor dalam keterangan resmi yang diterima baru-baru ini. Klaim ini menjadi dasar pengembangan proyek tersebut ke depannya.
Bagaimana Teknologi WTE Bekerja?
Teknologi WTE mengubah sampah menjadi energi listrik atau panas melalui proses pembakaran terkontrol. Berbeda dengan TPA yang hanya mengandalkan penimbunan, WTE memanfaatkan limbah sebagai sumber daya energi terbarukan.
Proses ini disebut mampu mengurangi volume sampah hingga 90 persen. Sisa abu dari pembakaran pun dapat dimanfaatkan kembali untuk bahan baku konstruksi, seperti campuran aspal atau paving block.
Fakta Singkat Seputar WTE Bogor
- Teknologi WTE diklaim menghasilkan emisi lebih rendah dari TPA konvensional.
- Proses pembakaran suhu tinggi meminimalisir polusi udara dan lindi.
- Target akhir program adalah mendukung pencapaian zero emission di Kota Bogor.
Langkah Pemkot Selanjutnya
Pemkot Bogor masih dalam tahap penggodokan regulasi dan kajian teknis terkait implementasi WTE. Beberapa aspek yang tengah dimatangkan meliputi lokasi pembangunan fasilitas, skema pendanaan, serta kerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki kompetensi di bidang pengelolaan sampah berbasis energi.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain di Jawa Barat dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan. Pemkot juga berencana melibatkan masyarakat dalam proses sosialisasi agar program berjalan sesuai harapan.