Pencarian

Produksi Beras 2025 Naik 13,29% jadi 34,69 Juta Ton, Stok Bulog Cetak Rekor 5 Juta Ton

Senin, 26 Oktober 2026 • 08:51:32 WIB
Produksi Beras 2025 Naik 13,29% jadi 34,69 Juta Ton, Stok Bulog Cetak Rekor 5 Juta Ton
Produksi beras nasional 2025 tercatat 34,69 juta ton atau naik 13,29% dibandingkan tahun sebelumnya.

JAWA BARAT — Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras nasional 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 4,07 juta ton atau 13,29% dari tahun sebelumnya. Kenaikan produksi berjalan seiring bertambahnya luas panen padi menjadi 11,32 juta hektare dengan produksi gabah kering giling 60,21 juta ton. Di sisi lain, stok beras Perum Bulog pada 2026 menembus 5 juta ton, tertinggi dalam sejarah pengelolaan pangan nasional.

Kenaikan produksi tidak lepas dari perluasan area tanam. Luas panen padi bertambah menjadi 11,32 juta hektare, sementara produksi gabah kering giling mencapai 60,21 juta ton. Pemerintah menempuh sejumlah langkah pendukung, mulai dari perbaikan distribusi pupuk, penyediaan benih unggul, perluasan mekanisasi, hingga penguatan serapan gabah petani.

Stok Bulog 5 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Penguatan cadangan beras pemerintah menjadi indikator lain yang mendapat perhatian. Pada 2026, stok beras yang dikelola Perum Bulog menembus kisaran 5 juta ton, level tertinggi dalam sejarah pengelolaan pangan nasional.

Cadangan sebesar itu memberi ruang fiskal bagi negara untuk mengintervensi pasar, menyalurkan bantuan pangan, dan menjaga stabilitas harga lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Namun stok besar belum otomatis menyelesaikan persoalan tata niaga.

Negara masih harus menjaga keseimbangan antara harga gabah yang menguntungkan petani dan harga beras yang terjangkau bagi konsumen. Panen melimpah tidak boleh membuat petani merugi, sementara distribusi yang tidak efisien berisiko membuat rakyat kecil kesulitan membeli beras.

Sinergi Bulog, Bapanas, dan Koperasi Desa Jadi Kunci

Ekosistem pangan melibatkan banyak pihak: Bulog, Badan Pangan Nasional, kementerian terkait, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan koperasi desa. Pengadaan, penyimpanan, pengeringan, penggilingan, distribusi, dan penyaluran beras perlu berjalan sebagai satu rantai transparan berbasis data.

Gagasan cadangan pangan berlapis dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional dinilai relevan untuk daerah rawan bencana, wilayah kepulauan, dan kawasan dengan akses logistik rentan. Lumbung pangan modern juga perlu dipadukan dengan penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai offtaker hasil pertanian, penyedia sarana produksi, hingga pengelola gudang dan cold storage.

Diversifikasi Pangan Kurangi Kerentanan Satu Komoditas

Beras tetap menjadi pangan utama, tetapi ketahanan nasional lebih kuat bila daerah mengembangkan komoditas sesuai keunggulan lokal. Jagung, sorgum, sagu, singkong, ubi, kedelai, kacang-kacangan, hortikultura, perikanan, dan peternakan masuk dalam daftar penguatan diversifikasi.

Langkah itu tidak mengurangi arti beras. Diversifikasi memperbesar pilihan pangan sekaligus menekan kerentanan terhadap fluktuasi satu komoditas, terutama saat geopolitik global tidak pasti dan kebijakan proteksionisme negara produsen mengancam rantai pasok.

Komitmen Investasi Belum Sama dengan Realisasi

Di sisi lain, diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama dan investasi, termasuk dalam Indonesia–US Business Summit di Washington D.C. Satu prinsip perlu dijaga: komitmen investasi bukan realisasi investasi.

Komitmen menjadi pintu masuk, sedangkan realisasi adalah ukuran keberhasilan sesungguhnya. Bagi pelaku pasar, kemampuan pemerintah mengonversi nota kesepahaman menjadi proyek berjalan akan menentukan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, dan penguatan industri nasional.

Ukuran keberhasilan pemerintahan tidak berhenti pada tingginya produksi atau besarnya nilai komitmen. Yang menentukan adalah kemampuan negara mengubah capaian itu menjadi harga pangan terjangkau, pendapatan petani layak, pekerjaan produktif, dan pemerataan ekonomi yang dirasakan rakyat.

Follow bandungline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: beritabuana.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks