JAWA BARAT — Banijay Entertainment mengincar ekspansi produksi skrip Amerika Serikat setelah merger dengan All3Media, kata Chief Business Officer Frédéric Balmary di MIA Market Roma. Studio independen terbesar dunia itu ingin memanfaatkan fokus baru Netflix pada konten Amerika, sekaligus memperkuat bisnis skrip berbahasa Inggris lewat talenta seperti George Kay dan Sam Mendes.
Banijay Entertainment menegaskan ambisi masuk lebih dalam ke pasar produksi skrip Amerika Serikat. Langkah itu menyusul rampungnya merger dengan All3Media yang melahirkan entitas gabungan berskala global.
Frédéric Balmary menyampaikan strategi tersebut dalam wawancara dengan Variety di ajang MIA Market, Roma. Menurut dia, Banijay ingin mengikuti arah pertumbuhan pasar, bukan sekadar bertahan di bisnis produksi yang sudah ada.
Mengapa Amerika Serikat Jadi Target Berikutnya
Balmary menilai sinyal dari laporan keuangan terbaru Netflix cukup jelas. Platform streaming itu sedang mencari lebih banyak judul sukses dari Amerika Serikat.
Banijay sebenarnya sudah menyentuh pasar Amerika lewat sejumlah proyek, termasuk serial "Ripley". Namun keterlibatannya masih sebatas sisi pengemasan, belum sebagai studio produksi penuh.
"Kami sudah ada di sana, tapi belum sebagai studio," ujar Balmary, merujuk pada posisi Banijay di pasar Amerika saat ini.
Kekuatan Skrip Berbahasa Inggris dan Talenta Global
Merger dengan All3Media memperkuat lini skrip berbahasa Inggris Banijay. All3Media membawa nama-nama besar, dari George Kay yang dikenal lewat "Lupin" hingga sutradara Sam Mendes.
Sebelumnya, Banijay sudah lebih dulu mengembangkan pasar skrip Inggris melalui akuisisi The Forge Entertainment dan sejumlah perusahaan Inggris lain. Kombinasi itu membuat ambisi Amerika bukan langkah kosong.
Balmary menegaskan bisnis Banijay berdiri di atas dua pilar: talenta dan kepemilikan intellectual property (IP). Pasar berbahasa Inggris yang terus tumbuh disebut sebagai wilayah yang paling ingin digarap, baik di produksi maupun distribusi.
Perebutan IP Jadi Pertarungan Utama
Isu kepemilikan IP menjadi salah satu poin paling tegas dalam pernyataan Balmary. Ia menyebut retensi IP sebagai salah satu pertarungan besar Banijay saat ini.
"Mempertahankan IP benar-benar menjadi salah satu pertarungan besar kami saat ini," kata Balmary.
Pernyataan itu senada dengan seruan CEO Banijay Marco Bassetti yang meminta produser Eropa mempertahankan posisi saat menegosiasikan syarat dagang. Bassetti menyoroti model produksi Eropa yang dinilai lebih melindungi hak kreator.
Balmary mencontohkan model Inggris yang kerap memungkinkan produser mempertahankan sekitar 50 persen IP. Menurut dia, kepemilikan itu yang membuat perusahaan punya ruang untuk terus berinvestasi di sisi kreativitas.
Banijay tercatat menggelontorkan sekitar 1 miliar euro untuk kreativitas selama empat tahun terakhir. Angka itu disebut sebagai fondasi bisnis yang membuat produksi berkelanjutan bisa berjalan.
Peluang Drama Eropa di Pasar Global
Selain Amerika, Banijay melihat ruang besar pada drama berbahasa non-Inggris. Laporan terbaru Netflix menunjukkan pertumbuhan penonton konten dari negara non-Inggris.
Di Italia, perusahaan Groenlandia menjadi salah satu rumah produksi skrip paling sukses. Di Spanyol, Pokeepsie baru merilis "Drawn Together" di Amazon dan disebut meraih hasil kuat di tingkat global.
Strategi Banijay adalah membawa cerita lokal Eropa agar bisa berjalan di pasar internasional. Balmary menyebut pendekatan itu sebagai cara mengibarkan bendera Eropa lewat narasi yang tetap relevan bagi penonton lintas negara.
Tekanan Finansial Studio Hollywood
Balmary tidak menampik bahwa studio Hollywood dan platform streaming tengah menghadapi tekanan finansial. Kondisi itu, menurut dia, akan mendorong mereka mencari keseimbangan antara biaya dan kualitas pada proyek-proyek premium.
Di titik ini, Inggris dinilai berperan sebagai jembatan antara Hollywood dan Eropa. Banijay sudah membuktikannya lewat "House of Guinness" yang diperpanjang untuk musim kedua, serta "War" yang baru tayang di HBO.
Proyek berikutnya, "The Wanted Man", akan segera hadir di Apple dengan George Kay kembali terlibat. Deretan judul itu menjadi bukti kapasitas Banijay memproduksi drama premium berbahasa Inggris.
Bagi industri hiburan global, langkah Banijay menandai pergeseran peta produksi setelah merger besar. Persaingan memperebutkan IP dan talenta diprediksi makin ketat, dengan Eropa dan Inggris berusaha mempertahankan posisi tawar terhadap raksasa streaming Amerika.