Pencarian

Minim Awan Hambat Hujan Buatan di Jawa Barat, 4 Daerah Mulai Krisis Air Bersih Saat Kemarau Ekstrem

Senin, 31 Agustus 2026 • 12:01:31 WIB
Minim Awan Hambat Hujan Buatan di Jawa Barat, 4 Daerah Mulai Krisis Air Bersih Saat Kemarau Ekstrem
Cuaca minim awan menghambat operasi modifikasi cuaca untuk hujan buatan di Jawa Barat.

BANDUNG — Upaya modifikasi cuaca untuk memicu hujan di Jawa Barat masih menemui jalan buntu. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menyebut potensi awan pembawa hujan di wilayah tersebut baru mencapai kurang dari 30 persen, jauh dari ambang batas minimum untuk melakukan penyemaian awan.

"Kami harus menunggu awan terkumpul dulu baru bisa melaksanakan hujan buatan. Kalau belum cukup, belum bisa dilakukan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Senin (31/8).

Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fase terkering musim kemarau baru akan terjadi pada Agustus hingga Oktober mendatang. Pengaruh El Nino kategori sangat kuat membuat sejumlah daerah berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan normal.

Dampak Kekeringan Mulai Terasa di Empat Daerah

Krisis air bersih sudah dirasakan warga di Kabupaten Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi. Di Kabupaten Bogor saja, pemerintah daerah telah mendistribusikan bantuan air bersih mencapai 7–9 juta liter bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.

Kondisi ini menunjukkan persoalan kemarau bukan sekadar soal suhu udara panas, tetapi menyentuh kebutuhan dasar warga sehari-hari.

Hujan Lokal Masih Berpeluang Turun

Meski minim awan untuk modifikasi cuaca, Suaidi menjelaskan hujan lokal tetap mungkin terjadi apabila atmosfer mendukung pertumbuhan awan konvektif. "Wilayah Bandung tetap masuk Zona Musim yang jelas, sehingga hujan lokal sesekali turun masih terbilang wajar," tambahnya.

Data atmosfer periode 24–30 Agustus menunjukkan suhu permukaan laut relatif hangat dengan kelembapan udara di lapisan atas berkisar 30–95 persen. Labilitas atmosfer yang bervariasi membuka peluang hujan lokal, meski tidak merata di seluruh Jawa Barat.

Suhu Udara Meningkat, Risiko Kebakaran Lahan Mengintai

Catatan Stasiun Geofisika Bandung memperlihatkan suhu maksimum pada 1–26 Agustus mencapai 32,6 derajat Celsius. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Juli yang tercatat 31,8 derajat Celsius.

Kenaikan suhu yang dibarengi minimnya hujan mempercepat berkurangnya ketersediaan air, terutama di daerah dengan cadangan terbatas. Suaidi mengingatkan risiko kebakaran lahan juga meningkat drastis.

"Kami menemukan jejak pembakaran lahan di sekitar Tol Cisumdawu. Mohon hal itu tidak diulang lagi," katanya.

Pemda Diminta Perkuat Cadangan Air Bersih

Suaidi mengimbau pemerintah daerah memperkuat cadangan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak kemarau. Langkah ini dinilai lebih realistis ketimbang menunggu turunnya hujan buatan yang masih terkendala minimnya awan.

Ia menegaskan operasi modifikasi cuaca baru bisa dieksekusi jika potensi awan sudah memenuhi syarat teknis. Sampai saat itu tiba, warga di wilayah rawan kekeringan diimbau mengelola penggunaan air secara bijak.

Follow bandungline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks