GARUT — Nama Tanjakan Kapten di Desa Mekarjaya, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, ternyata bukan berasal dari sosok seorang perwira menengah. Di balik nama yang melegenda itu, terdapat kisah duka seorang anggota TNI yang gugur dalam kecelakaan di lokasi tersebut pada 1977.
Putra almarhum, Agus, mengungkapkan bahwa ayahnya, Peltu CPM Joni Wiratmaja, memiliki pangkat Pembantu Letnan Satu, bukan Kapten. Meski demikian, masyarakat setempat mengabadikan lokasi kejadian dengan sebutan "Kapten" hingga kini.
Kronologi Kecelakaan Maut di Tahun 1977
Peristiwa nahas itu bermula ketika Joni Wiratmaja, yang bertugas di Pomdam VI Siliwangi, tengah melakukan perjalanan bersama seorang rekannya dan sopir. Mereka mengendarai mobil Land Rover melintasi kawasan perbukitan Bungbulang.
Di tengah perjalanan, kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, terguling, dan masuk ke dalam jurang. Ketiganya sempat dievakuasi dan dilarikan ke RSUD dr. Slamet Garut, namun nyawa Joni tidak tertolong.
"Sebenarnya bapak saya itu berpangkat Peltu, Pembantu Letnan Satu, bukan Kapten. Tapi masyarakat di sana menamai tanjakan lokasi kejadian kecelakaan itu Tanjakan Kapten," kata Agus.
Medan Terjal yang Menjadi Tantangan Abadi
Tanjakan Kapten terletak di Jalan Raya Bungbulang, sekitar tiga kilometer dari Alun-alun Bungbulang. Titik ini berada di ketinggian 635 meter di atas permukaan laut dengan lereng curam dan tikungan tajam.
Ruas jalan ini merupakan bagian penting dari jalur Pakenjeng-Bungbulang-Caringin yang menghubungkan wilayah Garut Selatan. Sebelum diperbaiki, jalan ini dikenal sempit, rusak, dan berlubang di sejumlah titik.
Perbaikan besar-besaran mulai dilakukan pada 2022. Jalan diperlebar, tikungan dibenahi, dan permukaannya diaspal hotmix. Infrastruktur yang lebih baik memang memperlancar akses masyarakat dan distribusi hasil bumi, tetapi karakter medan yang ekstrem tetap menjadi persoalan.
Catatan Kecelakaan yang Masih Terjadi
Risiko di Tanjakan Kapten masih nyata. Pada 14 Agustus 2023, sebuah pikap Mitsubishi Colt bermuatan pupuk mengalami kecelakaan. Kendaraan yang bergerak dari arah Bungbulang menuju Caringin itu tidak kuat menanjak, mesin mati, lalu mundur dan terperosok ke jurang sedalam 15 meter.
Dua tahun sebelumnya, pada Agustus 2021, sebuah ambulans yang membawa jenazah pasien Covid-19 juga terperosok ke jurang di kawasan yang sama. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Antara Sejarah dan Cerita Mistis
Seiring waktu, Tanjakan Kapten tak hanya dikenal karena kondisi jalannya. Cerita mistis dan kisah kecelakaan berulang berkembang di tengah masyarakat setempat. Namun, cerita-cerita tersebut berada dalam ranah kepercayaan dan tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
Yang memiliki pijakan faktual adalah peristiwa kecelakaan pada 1977 yang menewaskan Joni Wiratmaja. Peristiwa itu menjadi ingatan kolektif warga Bungbulang dan melahirkan nama yang bertahan hingga hampir lima dekade.
Kini, Tanjakan Kapten menjadi penanda perjalanan menuju Garut Selatan. Jalan yang lebih mulus memang mengurangi sebagian persoalan, tetapi tanjakan tetaplah tanjakan. Kemampuan kendaraan, kondisi muatan, dan kewaspadaan pengemudi tetap menjadi penentu keselamatan di ruas ini.