Pencarian

27 Tokoh di Bandung Sampaikan Mosi Kebangsaan Indonesia, Serukan Evaluasi Praktik Bernegara yang Menyimpang

Selasa, 18 Agustus 2026 • 14:53:01 WIB
27 Tokoh di Bandung Sampaikan Mosi Kebangsaan Indonesia, Serukan Evaluasi Praktik Bernegara yang Menyimpang
Mosi Kebangsaan Indonesia disampaikan 27 tokoh di Monumen Penjara Banceuy, Bandung, Selasa (18/8).

BANDUNG — Sebanyak 27 tokoh dari berbagai latar belakang menyampaikan Mosi Kebangsaan Indonesia di Monumen Penjara Banceuy, Kota Bandung, Selasa (18/8). Gerakan ini lahir dari kegelisahan terhadap perjalanan bangsa yang dinilai mulai menjauh dari visi Negara Pancasila dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan.

Pimpinan Mosi Kebangsaan Indonesia, Abdy Yuhana, didampingi Paskah Irianto dan Tavip Ginting, menegaskan bahwa mosi ini merupakan pengingat bagi para penyelenggara negara. "Prinsipnya adalah kita ingin mengingatkan kembali jalannya Negara Republik Indonesia," kata Abdy di lokasi.

Lima Poin Utama yang Disuarakan Para Tokoh

Dalam pernyataannya, para tokoh menyoroti sejumlah persoalan yang berkembang dalam satu dekade terakhir. Ketimpangan ekonomi, ketegangan sosial-politik, persoalan ekologi, hingga melemahnya kohesi sosial disebut sebagai bahan evaluasi bersama yang tidak bisa diabaikan.

Mosi Kebangsaan Indonesia memuat lima poin utama. Pertama, mendorong penyelenggara negara menjalankan janji kemerdekaan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai amanat alinea keempat Pembukaan UUD 1945.

Kedua, menegaskan konstitusi dan prinsip negara hukum demokratis sebagai instrumen mengawal kehendak rakyat. Ketiga, mendorong evaluasi terhadap praktik bernegara yang menyimpang, termasuk penerapan sistem merit dalam proses kepemimpinan di tingkat daerah maupun nasional.

Keempat, menyerukan penyelenggara negara dan warga bangsa menjunjung moral serta etika luhur sesuai budaya bangsa. Kelima, mengajak seluruh kekuatan nasional bergotong royong menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia.

Konstitusi Tidak Boleh Dikalahkan Kepentingan Politik

Paskah Irianto menyoroti pentingnya konstitusi sebagai pijakan utama dalam menjalankan negara. Menurutnya, kepentingan politik, tekanan kekuasaan, maupun kepentingan ekonomi tidak boleh mengakibatkan hak-hak rakyat terabaikan.

"Yang paling penting itu bicara tentang konstitusi. Jadi tidak boleh karena kepentingan politik atau tekanan-tekanan politik kekuasaan, perkembangan ekonomi, kemudian mengabaikan semua hak-hak rakyat. Rakyatlah yang berkuasa sepenuhnya," ujarnya.

Ia menilai perbaikan kehidupan bernegara membutuhkan pembenahan budaya politik dan kekuasaan. Dialog dengan berbagai unsur penyelenggara negara maupun kekuatan politik dinilai penting agar demokrasi tidak sekadar berjalan secara prosedural, tetapi benar-benar menghadirkan keadilan sosial.

Kebijakan Negara Wajib Prioritaskan Kesejahteraan Rakyat

Abdy Yuhana menekankan bahwa setiap kebijakan negara semestinya memiliki orientasi yang jelas terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia mengingatkan agar kebijakan yang dikeluarkan memberikan manfaat langsung bagi rakyat.

"Kebijakan-kebijakan negara tentunya harus bisa memprioritaskan mana kebijakan yang langsung memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi rakyat," kata Abdy.

Mosi ini juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam agar sebesar-besarnya memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Kehadiran negara dalam membuka akses pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kesempatan ekonomi yang lebih berkeadilan juga menjadi perhatian serius para tokoh.

Gerakan Akan Terus Bergulir ke Seluruh Wilayah Indonesia

Abdy menegaskan bahwa mosi ini tidak akan berhenti di Bandung. Gagasan serupa direncanakan terus disuarakan ke berbagai wilayah sebagai gerakan membangun kesadaran bersama mengenai arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Dari Bandung ini kami menyampaikan Mosi Kebangsaan dan ini akan terus bergulir ke seluruh wilayah di Indonesia, karena kami ingin terus mengingatkan jalannya Negara Republik Indonesia," tegasnya.

Penyampaian mosi ini menjadi bagian dari refleksi 81 tahun perjalanan Republik Indonesia sekaligus ajakan agar fondasi negara dan keteladanan para pendiri bangsa tetap menjadi pegangan dalam menghadapi tantangan kebangsaan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut I Gusti Ngurah Adhitya, Priston Sagala, Syarif Bastaman, Jeremy Huang, Bob Randilawe, Budi Hermansyah, Komarudin Taher, Enjang Tedi, Dwi Subawanto, Firman Tendry, serta sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang.

Follow bandungline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kapol.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks