KOTA BANDUNG — Padaringan Leuweung Awi Cisurupan diresmikan sebagai destinasi wisata baru yang menggabungkan wisata alam, budaya, religi, dan pemberdayaan UMKM. Peresmian ditandai pemukulan gong oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di kawasan Bukit Mbah Garut, Cisurupan, Cibiru, Minggu (2/8).
Kawasan ini dikelola langsung oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cisurupan dengan konsep pasar tradisional berbasis alam. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal berpartisipasi dalam aktivasi perdana yang sebelumnya telah melalui masa uji coba.
Wali Kota: Ini Karya Masyarakat, Bukan Sekadar Tempat Wisata
Farhan menegaskan bahwa Padaringan Leuweung Awi Cisurupan bukan sekadar destinasi rekreasi. Ia menyebut kawasan ini sebagai ruang pembelajaran bahwa manusia merupakan bagian dari alam.
"Ini adalah karya masyarakat. Karena itu menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga setiap pohon dan kelestarian kawasan ini. Pepohonan membuat Kota Bandung tetap sejuk, menjaga sumber air, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang dicari wisatawan," ujar Farhan dalam sambutannya.
Menurutnya, pelestarian lingkungan harus menjadi budaya masyarakat, bukan sekadar program pemerintah. Ia mengapresiasi keterlibatan Pokdarwis, seniman, pelaku UMKM, perangkat daerah, hingga warga yang bergotong royong menghidupkan kawasan tersebut.
Transaksi Pakai Koin Kayu, Ada Situs Religi Mbah Garut
Ketua Pokdarwis Cisurupan, Ari Irawan menjelaskan, destinasi ini mengusung konsep pasar tradisional berbasis alam. Sistem transaksi menggunakan koin kayu sebagai simbol pelestarian budaya tempo dulu.
Pengunjung dapat menikmati kuliner tradisional khas Sunda, pertunjukan seni, suasana hutan bambu yang masih alami, hingga mengunjungi situs religi Mbah Garut yang berada di kawasan tersebut.
"Kami berharap Padaringan Leuweung Awi Cisurupan dapat terus konsisten diselenggarakan dua kali setiap bulan, sekaligus menjadi ruang pemberdayaan UMKM, pelestarian budaya, dan penguatan wisata berbasis masyarakat," kata Ari.
Pemkot Targetkan Jadi Destinasi Unggulan Berkelanjutan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa menyebut aktivasi ini bagian dari pengembangan Daya Tarik Wisata (DTW) berbasis masyarakat. Menurutnya, destinasi berkelanjutan harus dibangun lewat kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha.
"Pokdarwis menjadi kekuatan utama dalam menemukan dan mengembangkan potensi wisata di masyarakat. Pemerintah kemudian memperkuatnya menjadi destinasi yang berkelanjutan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar," ujar Adi.
Adi menilai kawasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh, mulai dari wisata alam, religi, kuliner tradisional, seni budaya, hingga peluang wisata kesehatan atau wellness tourism. Farhan berharap kawasan ini menjadi salah satu titik pelestarian alam sekaligus destinasi unggulan Kota Bandung yang dikelola secara berkelanjutan.