Pencarian

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dorong Hidupkan Sentra Anyaman Bambu di Kampung Situbeet Lewat Kibar Budaya ke-11

Minggu, 26 Juli 2026 • 14:00:01 WIB
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dorong Hidupkan Sentra Anyaman Bambu di Kampung Situbeet Lewat Kibar Budaya ke-11

TASIKMALAYA — Rencana penghidupan kembali sentra anyaman bambu di Kampung Situbeet, Kecamatan Mangkubumi, mengemuka dalam panggung rakyat Kibar Budaya ke-11 yang digelar Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT). Wakil Wali Kota Dicky Candra mengatakan akan berkolaborasi dengan Perhutani Provinsi untuk menanam bambu di lahan sekitar kampung.

"Dulu, Situbeet dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu. Sekarang, para perajin mulai meninggalkannya karena kesulitan bahan baku," ujar Dicky di sela acara, Sabtu malam. "Ke depan kami akan tanam bambu bersama Perhutani. Tujuannya agar usaha anyaman bisa hidup lagi."

Kolaborasi dengan Perhutani: Target Tanam Bambu

Dicky menjelaskan, keterbatasan pasokan bambu menjadi penyebab utama meredupnya kerajinan anyaman di Situbeet. Rencana penanaman bambu ini diharapkan mengembalikan kampung sebagai sentra produksi. Ia tidak merinci jumlah bibit atau luasan lahan, namun menegaskan kerja sama akan dimulai dalam waktu dekat.

Acara Kibar Budaya sendiri menjadi momentum untuk memperkuat kembali nilai-nilai budaya daerah. Dicky mengapresiasi DKKT yang konsisten menggelar panggung rakyat di tengah ancaman punahnya kesenian tradisional. "Saya bangga dengan penampilan anak-anak muda, seniman, dan budayawan. Ini bukti budaya Tasikmalaya masih hidup," katanya.

Panggung Rakyat dan Potensi Ekonomi Lokal

Ketua DKKT Tatang Pahat menyebutkan, Situbeet bukan satu-satunya kawasan potensial. Mangkubumi dikenal sebagai sentra alas kaki, Kawalu sentra bordir, Tamansari dengan kelom geulis, dan Purbaratu dengan anyaman mendong. "Tugas kita bersama mengangkat potensi ini," ujar Tatang. Ia menambahkan, ke depan Kibar Budaya akan digelar di setiap kecamatan. "Dari kesenian dan kerajinan lokal, kita bisa dorong ekonomi kerakyatan."

Gelaran malam itu menampilkan tari tradisional, lagu Sunda, wayang golek, dan cerita rakyat. Seluruh pertunjukan disajikan di panggung sederhana yang dipadati warga Kampung Situbeet. DKKT berharap generasi muda semakin mencintai seni dan produk lokal.

Asal-Usul Kampung Situbeet: Dari Danau Dangkal ke Sentra Anyaman

Sesepuh setempat menuturkan, nama Situbeet berasal dari kata "Situ Deet" yang berarti danau dangkal. Dua tokoh, almarhum Samri dan Erum, disebut sebagai pasangan suami-istri yang pertama memperkenalkan kerajinan anyaman bambu puluhan tahun lalu. Kini, dengan rencana penanaman bambu, tradisi itu diharapkan kembali menggerakkan ekonomi warga.

Bagikan
Sumber: fokusjabar.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks