SUKABUMI — Warga di Kampung Babakansari RW 17, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mulai kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumur-sumur mereka mengering akibat kemarau. Kondisi ini berdampak pada 218 kepala keluarga yang tersebar di empat rukun tetangga.
Ketua RW 17 Edi Supredi mengatakan, sumur warga yang memiliki kedalaman 6 hingga 10 meter sudah tidak lagi mengeluarkan air sejak dua minggu terakhir. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air dari sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman.
Air Sungai Hanya untuk Mandi dan Cuci, Konsumsi Andalkan Isi Ulang
Air sungai yang menjadi andalan warga tidak layak untuk diminum. Warga hanya memanfaatkannya untuk mencuci dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sementara untuk air minum dan memasak, mereka membeli air isi ulang.
"Kalau untuk konsumsi nggak layak. Tapi untuk cuci, mau tidak mau, pakai yang ada," ujar Edi Supredi kepada VISI.NEWS.
BPBD Kirim Mobil Tangki, Warga Antre Bawa Ember dan Jeriken
Warga mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. BPBD kemudian mengirimkan mobil tangki yang disiagakan di titik yang telah ditentukan.
Warga pun berdatangan membawa berbagai wadah, mulai dari ember, jeriken, hingga galon bekas untuk menampung air bersih. "Alhamdulillah untuk bantuan hari ini cukup yah. Tapi besok lusa, mungkin masih butuh juga," kata Edi.
Lahan Pertanian Juga Terdampak Kekeringan
Musim kemarau tidak hanya memicu krisis air bersih, tetapi juga menyebabkan lahan pertanian di Kampung Babakansari mengalami kekeringan. Edi menuturkan, lahan pertanian di wilayah tersebut sangat bergantung pada curah hujan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi lebih lanjut mengenai jadwal penyaluran air bersih berikutnya dari BPBD Kabupaten Sukabumi untuk warga Kampung Babakansari.