JAWA BARAT — OnePlus benar-benar mati — kali ini untuk selamanya. Setelah bertahun-tahun perlahan kehilangan identitasnya, brand yang dulu dijuluki "flagship killer" itu resmi menutup operasi di Amerika Serikat dan Eropa. Oppo, perusahaan induk yang juga menaungi Realme, menarik kabel dari pasar barat. Kabar terbaru menyebut India menyusul, meski OnePlus membantahnya.
Dua Ponsel Terbaik yang Membuktikan OnePlus Masih Bisa Bersaing
Meski berakhir dengan lirih, OnePlus sempat menorehkan dua puncak prestasi di akhir masa hidupnya. Yang pertama adalah OnePlus Open, ponsel lipat yang dirilis pada 2023. Perangkat ini masih dianggap sebagai salah satu foldable terbaik yang pernah ada, bahkan mengalahkan Samsung dalam hal ketipisan bodi, kapasitas baterai, dan kualitas kamera.
Fitur "Open Canvas" yang diperkenalkan di ponsel ini — memungkinkan multitasking dengan mensimulasikan layar lebih besar dari fisiknya — kini diadopsi oleh Oppo pada lini foldable mereka. Sistem ini tetap menjadi cara paling cerdas untuk berpindah antar-aplikasi di layar lipat.
Kedua adalah OnePlus 13. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, OnePlus berhasil membuat ponsel yang benar-benar unggul di semua lini: baterai paling awet di antara flagship Android AS, performa dan manajemen panas yang prima, kamera dengan karakter warna yang hidup — kontras dengan hasil foto Pixel yang cenderung flat — serta desain hardware yang terasa premium. "Ini adalah ponsel yang akhirnya memenuhi janji Never Settle," tulis reviewer 9to5Google.
Dari CyanogenMod ke ColorOS: Perjalanan Identitas yang Hilang
OnePlus lahir pada 2013 sebagai brand yang menawarkan software Android murni melalui CyanogenMod, lengkap dengan harga yang jauh di bawah flagship Samsung dan HTC. Penggemar teknologi menyebutnya "pengkhianat" ketika mereka mulai menjauh dari akar tersebut.
Peralihan ke OxygenOS sempat memberi harapan, tetapi merger dengan Oppo pada 2021 mempercepat pembusukan. OxygenOS perlahan berubah menjadi salinan ColorOS, dan fitur khas seperti alert slider serta opsi kustomisasi mendalam mulai dipangkas. "Banyak hal yang disukai dari OnePlus awal — software bersih, komunitas penggemar yang solid — semuanya diencerkan sampai tak bisa dikenali," tulis sumber artikel.
Apa yang Tersisa untuk Pengguna OnePlus di Indonesia?
Bagi pengguna OnePlus di Indonesia, situasinya masih samar. Pasar India — yang selama ini menjadi basis utama OnePlus di Asia — belum resmi ditutup, meski sinyal dari Oppo menunjukkan hal itu hanya soal waktu. Pembaruan software akan tetap berjalan, tetapi semua perangkat OnePlus yang beredar akan bermigrasi ke ColorOS mulai Android 17.
Artinya, pengalaman "near-stock Android" yang dulu dijual sebagai nilai jual utama OnePlus kini benar-benar lenyap. Pengguna yang membeli OnePlus 13 atau OnePlus Open saat ini masih bisa menikmati OxygenOS, tetapi pembaruan besar berikutnya akan mengubah antarmuka mereka menjadi ColorOS sepenuhnya.
OnePlus Berakhir Tanpa Pesta Perpisahan
Tidak ada peluncuran ponsel edisi spesial, tidak ada pengumuman besar, tidak ada "final sendoff" yang layak untuk brand yang pernah mengguncang industri. Ponsel terakhir yang dirilis — OnePlus 15 — justru dianggap sebagai langkah mundur: baterai tetap unggul, tetapi kamera dan software mengalami penurunan signifikan.
"Ini adalah bagaimana OnePlus berakhir; bukan dengan ledakan, melainkan dengan desahan," tulis 9to5Google. Pasar Android di AS kini semakin suram, dengan hanya Samsung dan Google yang tersisa sebagai pemain utama. OnePlus, yang dulu menjadi alternatif segar bagi yang bosan dengan duopoli, kini hanya tinggal kenangan.
Bagi pengguna yang masih setia, pertanyaan besarnya: apakah Anda akan tetap menggunakan OnePlus setelah ColorOS mengambil alih, atau sudah saatnya beralih ke brand lain?