JAKARTA — Pasar modal Indonesia membuka perdagangan dengan volatilitas tinggi sebelum akhirnya ditutup menguat pada sesi pertama. IHSG sempat tertekan hingga ke posisi 5.890,441, namun berbalik arah dan mencapai level tertinggi di 5.954,350 sebelum akhirnya ditutup pada kisaran 5.944.
Sektor Properti Pimpin Penguatan, Tiga Sektor Masih Tertekan
Mayoritas sektor saham bergerak di zona hijau. Sektor properti memimpin dengan kenaikan signifikan sebesar 2,64 persen. Disusul sektor siklikal yang naik 1,45 persen, sektor kesehatan menguat 1,02 persen, dan sektor industri bertambah 0,72 persen.
Namun, tiga sektor masih belum mampu beranjak dari zona merah. Sektor energi dan infrastruktur sama-sama melemah 0,16 persen, sementara sektor teknologi terkoreksi 0,12 persen.
SMGR dan BRPT Jadi Motor Penggerak Indeks
Dari jajaran saham berkapitalisasi besar, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) menjadi pendorong utama penguatan IHSG. Saham emiten semen pelat merah itu melonjak 5,69 persen ke level Rp1.485 per saham. Kenaikan ini menjadikannya leader penguatan tertinggi pada sesi pertama.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga mencatatkan performa impresif dengan menguat 4,31 persen ke level Rp1.570. Sementara itu, PT Petrosea Tbk (PTRO) naik 1,51 persen ke posisi Rp4.010.
Saham ADRO dan EMAS Memberat Indeks
Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah saham. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi pemberat utama dengan koreksi 1,30 persen ke level Rp2.270. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga terpantau melemah 1,29 persen ke Rp5.700, disusul PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang terkoreksi 1,07 persen ke level Rp1.380.
Aktivitas Perdagangan Tercatat Cukup Ramai
Sepanjang sesi pertama, volume transaksi mencapai 12,679 miliar saham dengan nilai transaksi Rp5,049 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 997.815 kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini mencapai Rp10.430,339 triliun.
Pergerakan IHSG pada sesi pertama ini menunjukkan sentimen pasar yang masih mixed, di mana penguatan di sektor properti dan siklikal mampu mengimbangi pelemahan di sektor energi dan teknologi.