BANDUNG — Museum KAA terus menjadi destinasi sejarah paling diminati di Kota Bandung. Tak hanya menyimpan memori lahirnya solidaritas Asia-Afrika, tempat ini juga menjadi magnet edukasi bagi generasi muda. Kepala Seksi Publikasi dan Nilai-nilai KAA, Christoforus Katon, menyebutkan bahwa minat berkunjung terus meningkat setiap bulannya.
Dari Gagasan Mochtar Kusumaatmadja hingga Peresmian 1980
Keberadaan museum ini berawal dari ide Menteri Luar Negeri RI saat itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Gagasan itu muncul setelah banyak pemimpin negara Asia dan Afrika ingin mengunjungi Gedung Merdeka, lokasi bersejarah penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955.
“Gagasan pendirian museum muncul untuk mengabadikan sejarah serta semangat Konferensi Asia-Afrika. Usulan tersebut disampaikan pada peringatan 25 tahun KAA tahun 1980, mendapat dukungan Presiden Soeharto,” kata Christoforus dalam keterangan resmi, Jumat (3/7/2026). Museum KAA akhirnya diresmikan pada 24 April 1980, bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika.
Koleksi yang Membawa Pengunjung ke Tahun 1955
Museum ini menyuguhkan beragam koleksi yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan diplomasi dunia. Di antaranya diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, koleksi peralatan jurnalistik, arsip foto, dokumen sejarah, hingga film dokumenter yang mengisahkan jalannya konferensi.
Selain itu, museum juga mengajak pengunjung mengenal perjalanan panjang Gedung Merdeka yang menjadi saksi lahirnya semangat perdamaian dan kerja sama antarbangsa. Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada 18–24 April 1955 diikuti oleh 29 negara Asia dan Afrika.
Layanan Edukasi Tiga Bahasa dan Tiket Gratis
Untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam, Museum KAA menyediakan layanan edukator atau pemandu wisata bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan ini tersedia dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin, sehingga dapat melayani wisatawan dari berbagai negara.
Seluruh layanan kunjungan ke Museum KAA tidak dipungut biaya. Pengunjung individu maupun rombongan cukup melakukan reservasi melalui laman mkaa.kemlu.go.id. Khusus rombongan, reservasi dilakukan terlebih dahulu melalui admin museum sebelum mengisi formulir kunjungan.
Jam Buka dan Kuota Kunjungan
Museum KAA buka setiap Rabu hingga Sabtu pukul 09.00–15.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00–13.00 WIB. Khusus hari Jumat, jam layanan menyesuaikan waktu salat Jumat. Museum menerima kunjungan rombongan di sesi pagi pukul 09.00-12.00 WIB sebanyak 250 orang, sedangkan sesi siang pukul 13.00-15.00 WIB sebanyak 200 orang.
Warisan Solidaritas untuk Generasi Muda
“Peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan serta perdamaian dunia,” tutur Christoforus. Ia berharap nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika terus diwariskan kepada generasi muda.
Sebagai salah satu ikon sejarah dunia yang berada di jantung Kota Bandung, Museum KAA tidak hanya menjadi tempat menyimpan memori masa lalu, tetapi juga ruang belajar yang menginspirasi generasi masa kini untuk terus merawat semangat persaudaraan, diplomasi, dan perdamaian global.