BANDUNG — Museum KAA kini menjadi salah satu destinasi wajib bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin menelusuri jejak diplomasi Indonesia di panggung internasional. Dengan koleksi mulai dari diorama Sidang Pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, arsip foto dan dokumen asli, hingga film dokumenter, museum ini menghadirkan pengalaman belajar yang jauh dari kesan membosankan.
Mengapa Museum Ini Gratis dan Bagaimana Cara Masuknya?
Seluruh layanan kunjungan ke Museum KAA diberikan secara gratis. Pengunjung individu maupun rombongan cukup mendaftar melalui sistem reservasi yang telah disediakan. Khusus rombongan, proses reservasi dilakukan terlebih dahulu melalui admin museum sebelum mengisi formulir kunjungan.
Museum buka setiap Rabu hingga Sabtu pukul 09.00-15.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00-13.00 WIB. Pada hari Jumat, jam operasional menyesuaikan pelaksanaan salat Jumat. Kapasitas pengunjung dibatasi: maksimal 250 orang pada sesi pagi (09.00-12.00 WIB) dan 200 orang pada sesi siang (13.00-15.00 WIB).
Layanan Pemandu Tiga Bahasa untuk Wisatawan Asing
Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, museum menyediakan layanan edukator atau pemandu wisata bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan ini tersedia dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin, sehingga mampu melayani wisatawan dari berbagai negara.
Christoforus menjelaskan, gagasan pendirian museum muncul untuk mengabadikan sejarah dan semangat Konferensi Asia-Afrika. Usulan tersebut disampaikan pada peringatan 25 tahun KAA tahun 1980 dan mendapat dukungan Presiden Soeharto. Museum KAA akhirnya diresmikan pada 24 April 1980, bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika.
Lahir dari Gagasan Mochtar Kusumaatmadja
Ide pembangunan museum pertama kali dicetuskan oleh Menteri Luar Negeri RI saat itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Gagasan itu muncul karena banyak kepala negara dan tamu asing yang ingin melihat langsung Gedung Merdeka, tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika pada 18-24 April 1955. Pertemuan bersejarah yang dihadiri 29 negara itu menjadi tonggak perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk kemerdekaan, kesetaraan, dan perdamaian dunia.
“Peristiwa Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan serta perdamaian dunia,” ujar Christoforus.
Dari Gedung Merdeka ke Panggung Dunia
Museum KAA tidak hanya menyimpan benda-benda bersejarah. Koleksi peralatan jurnalistik yang digunakan saat konferensi berlangsung, arsip foto, dan dokumenter menjadi saksi bisu perjalanan diplomasi Indonesia. Pengunjung diajak memahami perjalanan Gedung Merdeka yang menjadi saksi lahirnya semangat persatuan dan kerja sama antara negara-negara Asia dan Afrika.
Keberadaan museum di pusat Kota Bandung menjadikannya sebagai destinasi yang mudah diakses. Bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan sejarah Indonesia sekaligus memahami peran penting Bandung dalam percaturan dunia, Museum KAA menawarkan pengalaman edukatif yang sulit ditemukan di tempat lain.