BANDUNG — Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jabar, Edi Wibowo, mengungkapkan bahwa fenomena El Nino dengan intensitas sedang hingga kuat menjadi faktor utama musim kemarau tahun ini lebih panjang dari biasanya. Wilayah yang sudah terdampak meliputi Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, dan Kabupaten Bandung.
Wilayah Utara Jabar Paling Rentan Kekeringan
Edi menjelaskan, daerah dengan potensi kekeringan tertinggi berada di pantai utara Jawa Barat. "Wilayah Utara Jawa Barat diprediksi mengalami kondisi paling kering seperti Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Majalengka, dan Cirebon," ujarnya saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Kondisi ini membutuhkan antisipasi sejak dini. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air serta mempercepat pembangunan jaringan air bersih.
Suhu Ekstrem: Malam Dingin, Siang Panas
Salah satu ciri puncak musim kemarau adalah perbedaan suhu yang mencolok antara siang dan malam. Berdasarkan pengamatan BMKG di Kota Bandung selama Juni 2026, suhu minimum tercatat 18 derajat Celsius, sementara suhu maksimum mencapai 33 derajat Celsius.
"Selisihnya jauh dan memang cuaca di saat kemarau ini terasa lebih dingin karena tutupan awan sedikit. Udara hangat lebih cepat lepas ke atas sehingga malam hari terasa lebih dingin," terang Edi.
Kapan Hujan Kembali Turun di Bandung Raya?
Untuk wilayah Bandung Raya, BMKG memperkirakan hujan mulai turun pada akhir September atau awal Oktober 2026. Edi menyebut periode itu sudah masuk masa peralihan musim. "Oktober itu sebetulnya sudah ada masuk ke peralihan, sudah muncul hujan di September akhir atau di awal Oktober untuk di Bandung Raya," katanya.
Meski begitu, BMKG akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer. Cuaca dapat berubah mengikuti kondisi alam yang dinamis. "Nanti kita akan lihat perkembangannya lagi dengan kondisi dinamisnya, seperti apa kondisi atmosfernya," tutup Edi.