BOGOR — Program Petani Berdasi yang digagas di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, perlahan mengikis stigma bahwa bertani adalah pekerjaan yang tidak modern. Sejumlah anak muda di wilayah tersebut kini mulai melirik dunia pertanian sebagai peluang ekonomi yang menguntungkan.
Mengapa Program Petani Berdasi Berhasil Menggaet Anak Muda?
Program ini dirancang untuk membungkus kegiatan bertani dengan pendekatan yang lebih kekinian dan profesional. Anak muda di Cibungbulang tidak lagi dipandang sebagai buruh tani, melainkan sebagai pengusaha agribisnis yang mengenakan dasi dan mengelola lahannya secara modern.
Pendekatan ini dinilai berhasil karena mengubah paradigma. Sawah tidak lagi dipandang sebagai sumber penghasilan pinggiran, melainkan sebagai aset produktif yang bisa memberikan keuntungan setara dengan bekerja di sektor formal.
Dari Sawah ke Cuan: Perubahan Pola Pikir Generasi Muda
Seorang pemuda asal Cibungbulang yang mengikuti program ini mengaku awalnya ragu terjun ke pertanian. Namun, setelah melihat hasil panen yang menjanjikan dan dukungan pendampingan teknis, ia memutuskan untuk serius mengelola lahan milik keluarganya.
“Dulu saya pikir bertani itu kotor dan tidak menghasilkan. Sekarang saya lihat sendiri, kalau dikelola dengan cara yang benar, hasilnya bisa bersaing,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program Petani Berdasi memberikan pelatihan tentang pemilihan bibit unggul, pemupukan tepat guna, hingga pemasaran hasil panen secara digital.
Dukungan Pemerintah dan Harapan ke Depan
Pemerintah Kabupaten Bogor melalui dinas terkait memberikan dukungan penuh terhadap program ini. Bantuan alat pertanian modern dan akses permodalan menjadi salah satu faktor yang mendorong anak muda untuk bertahan di sektor ini.
Ke depan, program Petani Berdasi ditargetkan bisa diperluas ke kecamatan lain di Bogor. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang tertarik mengelola lahan pertanian dan menjadikannya sebagai profesi utama.
Dengan semakin banyaknya anak muda yang terjun ke pertanian, ketahanan pangan di tingkat lokal pun diharapkan semakin kuat. Sawah bukan lagi sekadar warisan, melainkan ladang cuan masa depan.