Pencarian

Inovasi Garam Kristal Indramayu Dongkrak Produktivitas Petani Juntinyuat

Kamis, 07 Mei 2026 • 23:20:01 WIB
Inovasi Garam Kristal Indramayu Dongkrak Produktivitas Petani Juntinyuat
Petani Juntinyuat Indramayu mengembangkan inovasi produksi garam kristal untuk meningkatkan produktivitas.

INDRAMAYU — Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri menilai inovasi produksi garam kristal oleh petani di Desa Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, layak dikembangkan secara nasional. Teknologi ini dinilai menjadi terobosan penting untuk mengatasi rendahnya produktivitas garam rakyat yang selama ini bergantung pada cuaca.

“Buat saya ini terobosan yang bagus. Selama ini produksi garam dengan metode penguapan biasa produktivitasnya hanya sekitar 70 ton per hektare per tahun,” ujar Rokhmin saat meninjau lokasi produksi di Indramayu, Kamis.

Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah memperkenalkan teknik geomembran dan ulir yang mampu menaikkan angka produksi hingga 120 ton per hektare. Namun, inovasi di Juntinyuat memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi bagi pelaku usaha karena kualitas kristal yang dihasilkan jauh lebih baik.

Teknologi SWRO dan Sistem Tunnel Percepat Masa Panen

Ketua Koperasi SAE Nalendra Darma Raga, Carmadi, menjelaskan bahwa mereka menggunakan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang terintegrasi dengan tunnel penyaringan. Air laut diolah melalui proses pengendapan dan pembersihan bertingkat sebelum masuk ke tahap kristalisasi.

“Dalam satu jam, sistem SWRO mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air, yang kemudian menjadi sekitar 1.000 liter bahan kristalisasi setelah melalui proses penyaringan dan pembersihan,” kata Carmadi.

Setiap tunnel memiliki spesifikasi panjang 25 meter dan lebar 4 meter dengan ketinggian air sekitar 20 sentimeter. Dengan sistem produksi bertingkat ini, kapasitas awal yang dihasilkan bisa mencapai tiga ton garam per tunnel setiap bulannya.

Target Pasar Industri dan Kebutuhan Hilirisasi

Keunggulan lain dari metode ini adalah fleksibilitas waktu panen yang disesuaikan dengan target pasar. Untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, garam sudah bisa dipanen dalam waktu 30 hari, sementara untuk standar industri membutuhkan waktu sekitar 40 hari.

Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mempertemukan inovator lokal dengan sektor industri. Ia menyoroti banyaknya hasil penelitian di Indonesia yang berhenti pada tahap invensi atau prototipe tanpa pernah masuk ke jalur komersialisasi.

“Kalau di negara maju, pemerintah itu mempertemukan inovator dengan industrinya. Jadi hasil penelitian bisa berkembang menjadi inovasi yang dipakai secara luas,” tuturnya.

Guna memastikan keberlanjutan program ini, pihaknya berencana membawa temuan di Indramayu tersebut ke tingkat kementerian. Dukungan regulasi dan pendampingan dinilai krusial agar teknologi serupa tidak hanya terbatas di wilayah Losarang, Krangkeng, dan Juntinyuat saja.

“Nanti saya sampaikan ke dirjen dan menteri supaya jangan dibiarkan berjalan sendiri. Kalau tidak dibantu, inovasi seperti ini bisa tidak berkembang,” ujar Rokhmin.

Bagikan
Sumber: jabar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks