Azriel Nakhla Adinata, siswa SDN Depok 4 yang tidak menguasai bahasa Sunda sehari-hari, meraih Juara III pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kota Depok 2026.
DEPOK — Azriel Nakhla Adinata mengaku tidak bisa berbahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Bocah kelahiran Depok, 17 Februari 2016, itu justru baru mengenal bahasa Sunda setelah diajak gurunya, Yogi Permana, untuk mengikuti lomba Borangan pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kota Depok 2026.
"Awalnya saya tidak tahu apa-apa tentang bahasa Sunda. Saya disuruh Pak Yogi untuk ikut lomba," kata Azriel kepada Swara Pendidikan di sekolahnya, Selasa (11/8/2026).
Modal Juara I Kecamatan dan Proses Latihan Intensif
Perjalanan Azriel menuju tingkat kota dimulai sejak duduk di kelas IV. Saat itu, ia berhasil meraih Juara I pada perlombaan tingkat Kecamatan Pancoranmas, yang menjadi modal kepercayaan diri untuk kembali berkompetisi.
Proses persiapan Azriel tidak hanya mengandalkan bakat. Ia lebih banyak menghafal teks yang diberikan guru pembimbing, lalu menjalani tes untuk memastikan penguasaan materi, termasuk pengucapan dan logat bahasa Sunda.
"Cara belajarnya saya menghafal, lalu dites sama Pak Yogi. Semua diajarkan sama Pak Yogi, mulai dari logat sampai cara bicaranya," ujar anak kedua dari pasangan Supriadi dan Leni ini.
Kesulitan Ucapkan Kata Sunda dan Dukungan Orang Tua
Azriel mengakui proses latihan tidak selalu mulus. Sejumlah kata dalam bahasa Sunda cukup sulit untuk diucapkan maupun dihafalkan. Namun, kesulitan tersebut tidak membuatnya menyerah.
"Pak Yogi mencontohkan dulu, lalu saya menghafal dan mempraktikkannya. Kesulitannya ada beberapa yang susah diucapkan dan susah dihafal," katanya.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Prestasinya bahkan sempat membuat kedua orang tuanya terkejut.
"Orang tua kaget, kok bisa juara satu. Saya jawab, 'Yaelah, masa aku enggak bisa,'" ucapnya sambil tersenyum.
Di luar lomba Borangan, Azriel juga menyukai pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha dan berharap dapat terus mengembangkan kemampuan di berbagai bidang.
Kriteria Seleksi: Bukan Sekadar Pintar Berbahasa Sunda
Guru pembimbing Borangan SDN Depok 4, Yogi Permana, menjelaskan bahwa proses penjaringan peserta didik dimulai dengan seleksi karakter. Ia mencari siswa yang memiliki daya tarik dari segi sikap, tingkah laku, maupun suara.
"Awalnya saya mencari anak yang lucu secara lahiriah, baik dari sikap, tingkah lakunya, maupun suaranya. Setelah itu kita seleksi, kemudian kita kembangkan," ungkap Yogi.
Menurut Yogi, tantangan terbesar Azriel adalah penguasaan logat karena sejak awal sama sekali tidak memahami bahasa Sunda. Meski demikian, Azriel dinilai memiliki kelebihan berupa kemampuan akademik yang baik, percaya diri, dan motivasi belajar yang tinggi.
"Memang butuh proses, tetapi alhamdulillah tidak terlalu lama. Yang penting harus sabar dan benar-benar dimonitor. Kalau kita lemah dalam monitoring, latihan dan persiapannya kurang maksimal," jelasnya.
Apresiasi Sekolah: Prestasi Jadi Motivasi Siswa Lain
Kepala SDN Depok 4, Lia Rizkiyah, memberikan apresiasi atas capaian Azriel. Menurutnya, prestasi ini bukan hanya kebanggaan bagi Azriel dan keluarga, tetapi juga bagi sekolah.
"Saya berharap prestasi Azriel dapat menjadi motivasi bagi peserta didik lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan mengikuti berbagai kompetisi," tutup Lia.
Reporter:Gilang Permana
Sumber:swarapendidikan.co.idThis article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.