BOGOR — Gelombang efisiensi di tubuh badan usaha milik negara (BUMN) kembali mengerucut setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu malam. Dalam pertemuan itu, kepala negara secara spesifik menyoroti struktur organisasi PT Pertamina dan PT PLN yang dinilai terlalu gemuk.
Presiden meminta Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan jajaran petinggi BUMN lainnya untuk mengurangi lapisan manajemen. Instruksi ini bukan sekadar wacana, melainkan perintah langsung yang disampaikan di hadapan sejumlah menteri dan kepala lembaga.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, pemangkasan struktur ini menyasar seluruh lini, mulai dari anak perusahaan hingga cucu usaha. Tujuannya jelas, memangkas birokrasi yang selama ini memperlambat laju bisnis.
“Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo juga memerintahkan pengurangan layer-layer dan anak cucu perusahaan di Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya,” ujar Teddy dalam siaran resmi Sekretariat Kabinet, dikutip Senin (10/8/2026).
“Pemangkasan ditujukan agar pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, produktivitas lebih meningkat, dan efisiensi seluruh BUMN lebih terjaga,” sambungnya.
Dalam kesempatan yang sama, Simon Aloysius Mantiri tidak hanya menerima instruksi. Dirut Pertamina itu turut melaporkan progres program mandatory Biodiesel 50 persen (B50) yang telah berjalan sejak Juli 2026.
Simon juga memaparkan kesiapan infrastruktur BUMN energi tersebut dalam menjalankan program mandatory bio-ethanol yang dicanangkan pemerintah. Laporan ini menjadi bahan evaluasi langsung di hadapan Presiden.
Berdasarkan foto yang dibagikan Sekretariat Kabinet, rapat di Hambalang tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara. Mereka antara lain Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Kepala Badan Intelijen Negara M. Herindra.
Hadir pula Kepala Sekretaris Pribadi Presiden Rizky Irmansyah. Kehadiran para pejabat keamanan dan politik ini menandakan pembahasan efisiensi BUMN menyentuh ranah strategis nasional.
Langkah pemangkasan ini sebenarnya sudah mulai berjalan. CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, pada pekan lalu, telah melaporkan tindak lanjut instruksi presiden terkait pengurangan lapisan manajemen di BUMN besar.
“Arahan-arahan Beliau (Presiden, Red.) juga untuk pengurangan layer-layer, terutama di perusahaan-perusahaan BUMN yang besar (seperti) Pertamina, PLN, dan yang lain-lainnya agar pengambilan keputusan juga menjadi lebih cepat, produktivitas juga lebih meningkat, efisiensi juga lebih terjaga, dan juga tentu saja (diikuti) di BUMN-BUMN lainnya,” kata Rosan menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis pekan lalu.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius merampingkan struktur holding BUMN. Efisiensi yang dikejar bukan hanya penghematan biaya, tetapi juga kecepatan respons terhadap dinamika pasar dan energi nasional.