Gubernur Jabar Gandeng TNI dan BMKG Antisipasi El Nino Godzilla, Kapasitas Sarimukti Hanya Bertahan Enam Bulan

Penulis: Ivan Setiawan  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 11:52:31 WIB
Gubernur Jabar memimpin rapat koordinasi dengan TNI dan BMKG untuk antisipasi El Nino Godzilla.

BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai langkah konkret menghadapi ancaman kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino Godzilla. Gubernur Dedi Mulyadi memimpin rapat koordinasi di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, pada Kamis (4/6/2026), yang melibatkan TNI, BMKG, serta para bupati dan wali kota dari seluruh wilayah Jabar.

Dua Ancaman yang Mengintai: Sampah dan Kekeringan

Dalam rapat tersebut, Dedi menyoroti dua masalah utama yang dinilai genting. Pertama, kapasitas Tempat Pembuangan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti diperkirakan hanya mampu menampung sampah hingga enam bulan ke depan. Kedua, potensi dampak kemarau panjang akibat El Nino yang diprediksi melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat.

“Kita harus mengantisipasi dampak kemarau panjang ini, mulai dari kekeringan hingga potensi kebakaran. Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan terjadi pada Agustus dan September,” ujar Dedi dalam pernyataan resminya.

Data Kekeringan Harus Segera Dipetakan

Dedi meminta pemerintah kabupaten dan kota segera memetakan daerah-daerah yang rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau. Data tersebut akan digunakan untuk menyusun langkah penanganan, termasuk penyediaan pasokan air bersih bagi masyarakat dan sektor pertanian. Langkah antisipatif yang diminta meliputi percepatan pembangunan sarana air bersih, penyiapan penampungan air, serta optimalisasi distribusi air bersih menggunakan mobil tangki dengan melibatkan TNI dan pemangku kepentingan lainnya.

Teknologi Pirolisis untuk Mengatasi Sampah Plastik

Untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir, Dedi mendukung pengembangan teknologi waste to fuel yang digagas TNI. Teknologi ini memanfaatkan metode pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Menurutnya, wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat berpotensi menghadapi persoalan serius jika kapasitas Sarimukti tidak lagi mencukupi dalam beberapa bulan mendatang.

Selain mendorong pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui pemanfaatan teknologi pengolahan sampah seperti waste to energy dan waste to fuel. Dedi menambahkan, pengelolaan sampah dan penyediaan air bersih menjadi bagian dari prioritas Pemprov Jabar dalam APBD Perubahan 2026, bersamaan dengan pembangunan infrastruktur dasar di desa.

BMKG: Kemarau Lebih Panjang dan Lebih Kering

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama akibat pengaruh El Nino Godzilla. Kondisi tersebut mulai dirasakan di wilayah Pantai Utara Jawa Barat dan diperkirakan akan meluas ke daerah lain pada Juli hingga Oktober. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan September.

“Tahun ini kemarau diperkirakan lebih panjang dan lebih kering. Karena itu, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak sekarang untuk mengurangi risiko kekeringan di berbagai daerah,” katanya.

TNI Siap Dukung dengan 100 Titik Air Bersih

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengapresiasi langkah cepat Pemprov Jabar. Ia menyebut TNI siap mendukung upaya penanganan kekeringan maupun pengelolaan sampah melalui berbagai program yang telah berjalan. Menurut Maruli, upaya antisipasi kekeringan telah dilakukan TNI melalui pembangunan ratusan titik penyaluran air bersih di berbagai daerah. Selain itu, pengembangan teknologi waste to fuel di sejumlah lokasi di Jawa Barat, termasuk Sarimukti, Bekasi, dan Bogor, terus dilakukan untuk membantu mengatasi persoalan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: harapanrakyat.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top