InDriver vs Gojek-Grab: Tarif Bisa Ditawar, Sopir Cuma Dipotong 10 Persen

Penulis: Haris Maulana  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 00:07:01 WIB
InDriver menawarkan tarif tawar-menawar dengan potongan komisi sopir hanya 10 persen.

JAWA BARAT — Berbeda dengan aplikasi ride-hailing pada umumnya yang menetapkan tarif secara sepihak melalui sistem surge pricing, InDriver membalik logika itu. Penumpang cukup memasukkan tujuan dan menawar harga yang dianggap wajar. Sopir yang melihat tawaran itu bisa langsung menerima, menolak, atau menawar balik.

Setelah beberapa sopir merespons, penumpang punya hak pilih. Bukan cuma soal harga termurah, tapi juga bisa memfilter berdasarkan rating pengemudi, tipe kendaraan, atau jarak kedatangan. Ini yang disebut sistem "Real-Time Deals" — transaksi langsung antar manusia, bukan mesin.

"Saya lebih suka karena bisa tawar-menawar. Kalau lagi macet atau hujan, tarif enggak melonjak seenaknya kayak di aplikasi lain," ujar Andi, pengguna InDriver di Jakarta Selatan, kepada wartawan.

Komisi Rendah, Sopir Bisa Bawa Pulang Lebih Banyak

Bagi mitra pengemudi, keuntungan finansial jadi daya tarik utama. InDriver hanya memotong 10-15 persen dari tarif yang disepakati. Sebagai perbandingan, kompetitor seperti Gojek dan Grab memotong 20-25 persen per transaksi.

Artinya, meskipun penumpang menawar harga lebih murah dari tarif pasar, sopir tetap bisa membawa pulang pendapatan bersih yang lebih besar karena potongannya lebih kecil. Ini menciptakan insentif bagi pengemudi untuk tetap menerima order dengan harga negosiasi.

Model ini lahir dari krisis. Pada 2012 di Yakutsk, Rusia, saat suhu minus 40 derajat Celcius, taksi lokal menaikkan tarif dua kali lipat. Sekelompok mahasiswa lalu membuat grup "Independent Drivers" di media sosial sebagai wadah negosiasi langsung. Dari situlah InDriver lahir.

Bisakah InDriver Saingi Gojek dan Grab di Indonesia?

Hingga kini, InDriver telah beroperasi di 45 negara dan 700 kota. Di Indonesia, platform ini mulai dilirik konsumen yang jenuh dengan tarif kaku dan algoritma yang tidak bisa diprediksi. Budaya tawar-menawar yang kuat di masyarakat Indonesia dinilai cocok dengan model ini.

Fitur keamanan tetap tersedia, termasuk fitur berbagi lokasi perjalanan secara real-time ke keluarga atau teman. Meski berbasis negosiasi, platform mengklaim tetap mengutamakan keselamatan penumpang dan pengemudi.

Namun, tantangan terbesar adalah membangun basis pengguna dan pengemudi yang cukup besar di setiap kota agar waktu tunggu tidak terlalu lama. Sejauh ini, InDriver masih menjadi pemain alternatif di bawah penguasaan pasar Gojek dan Grab.

Bagaimana cara InDriver memastikan keamanan penumpang jika tarif dinegosiasikan?

Platform tetap menyediakan fitur pelacakan perjalanan real-time dan tombol darurat. Negosiasi harga tidak menghilangkan sistem verifikasi identitas pengemudi dan penumpang.

Apakah sopir bisa menolak order jika harga tawaran terlalu rendah?

Bisa. Sopir memiliki tiga opsi: menerima, menolak, atau mengajukan penawaran balik dengan harga lebih tinggi. Tidak ada paksaan sistem seperti di aplikasi konvensional.

Kapan InDriver mulai beroperasi di Indonesia?

Platform ini sudah beroperasi di beberapa kota besar Indonesia sejak beberapa tahun terakhir, meskipun tidak melakukan promosi besar-besaran seperti kompetitor. Pertumbuhan pengguna disebut cukup masif secara organik.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: mawar#4192 This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top