BOGOR — Pemkot Bogor melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) menggenjot pembangunan infrastruktur pengelolaan air limbah domestik. Salah satu solusi utama yang diandalkan adalah pembuatan septic tank komunal yang melayani beberapa rumah tangga sekaligus. Langkah ini menjadi prioritas di tengah keterbatasan lahan di permukiman padat penduduk yang menghambat pembangunan septic tank individual.
Di kawasan padat penduduk seperti Kelurahan Cibogor dan sekitarnya, lahan untuk membangun septic tank pribadi kerap menjadi kendala. Septic tank komunal hadir sebagai solusi kolektif yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Sistem ini memungkinkan pengelolaan limbah tinja secara terpusat, sehingga mengurangi risiko pencemaran tanah dan air tanah.
“Program ini hadir untuk mengakomodasi kebutuhan pengelolaan air limbah di permukiman yang lahannya terbatas. Dengan sistem komunal, biaya perawatan juga bisa ditanggung bersama,” ujar Kepala Disperumkim Kota Bogor dalam keterangan resminya.
Pemkot Bogor tidak hanya fokus pada septic tank komunal. Mereka juga memperluas jaringan perpipaan sambungan air limbah domestik ke lebih banyak rumah tangga. Berikut fakta singkat terkait program ini:
Keberadaan septic tank komunal dan sambungan air limbah diharapkan mampu memutus rantai pencemaran lingkungan. Selama ini, limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik kerap mencemari saluran drainase dan sungai di Kota Bogor. Dengan sistem yang terpusat, limbah akan diolah sebelum dibuang ke badan air.
Bagi warga, program ini juga menghilangkan beban biaya pembangunan septic tank pribadi yang bisa mencapai jutaan rupiah. Mereka hanya perlu berkontribusi pada biaya perawatan komunal yang lebih ringan.
Pemkot Bogor memastikan program ini berjalan secara bertahap. Tahap awal difokuskan pada pemetaan lokasi prioritas dan sosialisasi kepada warga. Setelah infrastruktur terbangun, pemerintah akan membentuk kelompok pengelola yang bertugas merawat septic tank komunal secara berkala.
“Kami tidak hanya membangun, tapi juga memastikan keberlanjutannya. Warga akan dilibatkan dalam pengelolaan agar sistem ini bisa bertahan lama,” pungkasnya.