BANDUNG — Sebelum internet lahir, mahasiswa teknik dari berbagai daerah menjadikan Bandung sebagai tempat mencari buku elektronika, komputer, telekomunikasi, dan teknik industri yang sulit ditemukan di kota lain. Toko buku di Braga seperti Intervarsity/Interlude, Scientific, Toko Jawa, dan Indira menjadi rujukan, begitu pula Elvira di Dago serta pasar buku diskon Palasari yang menjual dengan potongan 15-30 persen.
Bagi mahasiswa Teknik Elektro saat itu, Bandung bukan sekadar kota kampus. Di ruang kuliah mereka belajar teori, sementara di lapangan mereka melihat langsung perkembangan teknologi industri yang kerap melampaui apa yang diajarkan dosen.
Ketika Peneliti Bandung Sudah Menggarap HDTV
Salah satu pengalaman yang membekas datang dari kunjungan ke perusahaan swasta di Jalan Pudak yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan teknologi. Di laboratoriumnya, para peneliti bergelar profesor, doktor, dan insinyur bekerja tanpa banyak tampil di media.
Saat televisi rumah masih memakai teknologi analog dengan transistor, resistor, dan kapasitor, perusahaan di Bandung itu sudah menciptakan berbagai jenis integrated circuit (IC) sendiri. Sebagian ilmuwan bahkan sudah mempelajari High Definition Television (HDTV), teknologi yang kala itu terasa seperti mimpi masa depan.
Namun hasil karya tersebut tidak berlanjut. Kurangnya dukungan pemerintah membuat inovasi para peneliti berhenti hanya sebagai pajangan di etalase.
Empat Dekade Kemudian, Pertanyaan yang Sama Kembali Muncul
Lebih dari empat dekade berselang, dunia berubah lagi. Kali ini perubahan itu bernama Artificial Intelligence (AI), dan Bandung dihadapkan pada pilihan yang mirip dengan era 1980-an.
Apakah Bandung akan menjadi pelaku utama revolusi teknologi, atau hanya menonton perubahan dari kejauhan? Pertanyaan itu kembali mengemuka di tengah gelombang AI yang mengubah cara industri, kampus, dan pemerintah daerah bekerja.
Jawabannya belum pasti. Yang jelas, rekam jejak Bandung sebagai kota dengan tradisi teknik dan riset sudah terbentuk jauh sebelum istilah Silicon Valley populer di Indonesia.