Pencarian

Riset 3 Kampus di Bandung: Literasi Digital Jadi Benteng Utama Tangkal Radikalisme di Kalangan Gen Z

Jumat, 31 Juli 2026 • 11:32:31 WIB
Riset 3 Kampus di Bandung: Literasi Digital Jadi Benteng Utama Tangkal Radikalisme di Kalangan Gen Z
Literasi digital dan moderasi beragama menjadi strategi utama menangkal radikalisme di kalangan Generasi Z dalam riset kolaborasi tiga kampus di Bandung.

BANDUNG — Ancaman radikalisme di kalangan Generasi Z tidak lagi bisa ditangkal hanya dengan pendekatan keamanan. Guru Besar UPI, Prof. Dr. Dadan Wildan, menegaskan bahwa penguatan literasi digital, moderasi beragama, dan budaya toleransi di sekolah, kampus, serta ruang digital menjadi strategi integratif yang harus dikedepankan.

Hal itu disampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Dampak Media Sosial terhadap Pemahaman Radikalisme dan Intoleransi Berbasis SARA pada Generasi Z di Indonesia" yang digelar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) UPI, Kamis (30/7/2026).

"Komunitasnya masih ada dan sedang menunggu momentum. Karena itu pendekatan penanggulangan harus bergeser dari hard approach menuju soft approach melalui pendidikan, penguatan moderasi beragama, literasi digital, serta kontra narasi di ruang siber," ujar Dadan Wildan.

Otoritas Pengetahuan Bergeser dari Kiai ke Algoritma

Ketua tim peneliti, Guru Besar Sosiologi UPI Prof. Dr. Elly Malihah, memaparkan temuan penting penelitian ini. Bila sebelumnya generasi muda belajar langsung kepada kiai atau ustaz, kini pencarian informasi keagamaan justru didominasi oleh mesin pencari dan kecerdasan buatan.

Kondisi ini diperparah dengan fenomena filter bubble yang diciptakan algoritma media sosial. Ridwan, Ph.D. dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menjelaskan bahwa ruang digital kini semakin rentan terhadap polarisasi dan berkembangnya sikap eksklusif, termasuk penolakan terhadap kelompok berbeda.

Berpikir Kritis Jadi Penentu Ketahanan Ideologis

Penelitian yang melibatkan UPI, Universitas Negeri Malang (UM), dan UIII ini menemukan bahwa kemampuan literasi digital dan berpikir kritis menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran paham intoleran. Mayoritas Generasi Z memang tidak serta-merta mengubah pandangan ideologisnya setelah mengakses media sosial, namun paparan konten negatif tetap menjadi tantangan serius.

Mereka perlu dibekali kemampuan membedakan kritik, ujaran kebencian, dan narasi radikalisme, termasuk melalui praktik fact checking dan pemahaman terhadap teknik framing informasi.

Radikalisme Tidak Lahir Instan, Ada Jaringan yang Menguatkan

Dekan FPIPS UPI Prof. Dr. Cecep Darmawan mengulas aspek psikologi radikalisme dengan mengacu pada konsep Psychology of Terrorism. Ia menjelaskan bahwa proses radikalisasi dipengaruhi oleh krisis identitas, kebutuhan psikologis, narasi ideologis, dan jaringan sosial yang menopang penyebaran paham tersebut.

"Radikalisme tidak lahir secara instan. Ada kebutuhan psikologis, narasi yang membentuk keyakinan, dan jaringan yang memperkuatnya," ujarnya.

FGD ini merupakan bagian dari penelitian skema Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Tahun 2026. Tahun kedua penelitian akan diarahkan pada penyusunan model rekonstruksi pengetahuan yang lebih terbuka dan inklusif, dengan luaran berupa buku dan media edukasi. Diskusi tersebut juga menghadirkan Guru Besar UIN SGD Bandung Prof. Dr. Karman serta pakar pendidikan Islam dari Unisba Imam Pamungkas, Ph.D., dan dihadiri langsung oleh siswa SMA serta mahasiswa sebagai representasi Generasi Z.

Follow bandungline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tugubandung.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks