SUMEDANG — Tiga kecamatan di Kabupaten Sumedang masuk dalam peta rawan kekeringan yang disusun BPBD setempat. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sumedang Hendar menyebut wilayah-wilayah itu adalah Sumedang Kota, Ujungjaya, dan beberapa daerah lain yang secara historis mengalami defisit pasokan air bersih setiap kemarau tiba.
"Daerah-daerah yang memang sering mengalami krisis air sudah kami petakan. Sekarang kondisinya juga lebih baik karena koordinasi yang cepat," ujar Hendar di Sumedang, Sabtu.
Koordinasi Lintas Instansi Jadi Kunci
BPBD tidak bekerja sendiri. Kolaborasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan pemerintah desa diperkuat agar respons terhadap laporan kekeringan bisa dilakukan dalam hitungan jam, bukan hari. Menurut Hendar, begitu ada informasi mengenai kekeringan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan PDAM untuk menentukan titik droping air bersih.
"Kami harus terus memperkuat kolaborasi antar-stakeholder," kata Hendar.
Armada Tangki Air Disiagakan
Selain pemetaan, BPBD menyiapkan dukungan armada tangki air sebagai bagian dari upaya penanganan darurat. Armada ini akan dikerahkan jika distribusi air bersih dari PDAM tidak mencukupi kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak. Hendar menambahkan, hasil pemetaan tersebut menjadi acuan bagi BPBD, PDAM, dan pemerintah desa dalam menentukan langkah penanganan agar bantuan lebih cepat dan tepat sasaran.
"PDAM selalu melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah desa," ujarnya.
Imbauan untuk Pemangku Kepentingan
BPBD mengimbau seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi selama musim kemarau. Tujuannya, kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi dengan cepat apabila terjadi kekeringan. Langkah ini dinilai krusial mengingat beberapa wilayah di Sumedang kerap mengalami krisis air bersih saat puncak kemarau tiba.