GARUT — Sementara Pemerintah Kabupaten Garut masih merumuskan skema besar Program Orang Tua Asuh, sebuah komunitas relawan di daerah ini sudah bergerak lebih dulu. Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) mencatatkan prestasi: 92 anak dari keluarga prasejahtera tetap melanjutkan pendidikan berkat uluran tangan para donatur dan relawan.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada anak-anak yang nyaris kehilangan masa depan karena biaya sekolah, seragam, dan buku yang tak terjangkau. SSC hadir menambal celah yang selama ini tak tersentuh program pemerintah.
Bantuan Konkret, Bukan Sekadar Seremoni
Direktur SSC, Mulyono Khaddafi, menyebut bantuan yang disalurkan bukan dalam bentuk uang tunai semata. "Kami memberikan perlengkapan sekolah, kebutuhan pendidikan, hingga dukungan biaya agar para siswa tetap dapat melanjutkan sekolah," ujarnya.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menyasar kebutuhan riil di lapangan. SSC menjangkau sejumlah wilayah di Garut dengan memverifikasi langsung keluarga yang benar-benar membutuhkan. Tak ada acara seremonial atau spanduk besar. Yang ada, anak-anak tetap duduk di bangku kelas.
Program Pemkab Garut Kini Diuji Publik
Pemerintah Kabupaten Garut belum lama ini meluncurkan Program Orang Tua Asuh. Program ini mengajak aparatur sipil negara (ASN), dunia usaha, Baznas, dan elemen masyarakat untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak rentan putus sekolah.
Langkah ini diapresiasi sebagai terobosan. Namun, tantangan terbesarnya bukan lagi pada konsep, melainkan implementasi. Publik menunggu sejauh mana program tersebut mampu menurunkan angka anak putus sekolah, yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Garut.
Kolaborasi Masyarakat vs Birokrasi Pemerintah
Apa yang dilakukan SSC membuktikan bahwa kolaborasi masyarakat bisa menjadi solusi nyata meski dengan sumber daya terbatas. Tanpa menunggu instruksi dari atas, komunitas ini bergerak sendiri dan hasilnya terukur: 92 anak terselamatkan.
Kondisi ini menjadi pengingat bagi Pemkab Garut. Penanganan anak putus sekolah membutuhkan percepatan, koordinasi lintas sektor, dan keberpihakan anggaran yang jelas. Kehadiran pemerintah sebagai motor penggerak tetap menjadi harapan utama, tetapi inisiatif seperti SSC menunjukkan bahwa aksi nyata tak perlu menunggu birokrasi rampung.
Kini, ukuran keberhasilan Program Orang Tua Asuh bukan terletak pada banyaknya deklarasi, melainkan pada semakin banyaknya anak Garut yang kembali duduk di bangku sekolah. Publik menanti bukti. (JB/RF)