PANGANDARAN — Rangkaian Hajat Laut di Pangandaran tahun ini berlangsung sejak akhir tahun Hijriah hingga memasuki awal bulan Muharram. Jeje Wiradinata mengaku sudah mengenal tradisi ini sejak kecil, bahkan sejak zaman kakeknya masih hidup.
"Saya selalu berpikir, apa yang dilakukan ini pada dasarnya adalah bentuk syukuran," ujar Jeje kepada wartawan di pantai timur Pangandaran, Selasa (16/6/2026).
Tiga Pilar yang Mengikat Nelayan dan Budaya
Menurut Jeje, pelaksanaan Hajat Laut tidak bisa dilepaskan dari tiga pilar utama. Pertama, istigosah dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur serta permohonan keselamatan bagi nelayan yang melaut.
Kedua, tradisi ini menjadi ruang pelestarian budaya lokal yang diwariskan lintas generasi. "Tentu tradisi ini akan selalu dirawat sepanjang tidak bertentangan dengan agama dan nilai leluhur kita," kata Jeje.
Ketiga, hajat laut menjadi ajang refleksi kehidupan masyarakat pesisir. Dalam prosesinya, terdapat tradisi cucurak atau makan bersama yang menjadi simbol kebersamaan antarwarga.
Tari Kolosal dan Kisah Dewi Rengganis
Salah satu puncak acara adalah pementasan tari kolosal yang menggambarkan sejarah awal Pangandaran. Tarian ini menyimbolkan tokoh Dewi Rengganis, yang dalam cerita rakyat berkaitan dengan Kerajaan Galuh Pananjung.
Jeje menjelaskan, narasi budaya itu juga terkait dengan berkembangnya kesenian ronggeng gunung di wilayah tersebut. Prosesi tabur bunga dan pelepasan air doa di laut dimaknai sebagai simbol cinta serta penghormatan bagi nelayan yang gugur di laut.
Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Jeje menekankan bahwa hajat laut sudah menjadi agenda tahunan yang melekat dalam kehidupan nelayan Pangandaran. Tradisi ini dipilih sebagai simbol membuka tahun baru dengan harapan dan nilai yang lebih baik bagi kehidupan nelayan.
"Hajat Laut ini terus berkembang sejak saya kecil, sejak kakek saya masih ada," ujarnya.
Ia berharap tradisi ini tetap lestari dan tidak kehilangan esensi di tengah modernisasi. Bagi masyarakat Pangandaran, laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga. (*)