CIREBON — Suasana sidang paripurna istimewa di Gedung DPRD Kota Cirebon berubah ketika Taufiq Yusuf, putra daerah yang merantau ke Jakarta, naik ke podium. Alumni SMP Negeri 1 Cirebon itu bukan pejabat atau politisi, melainkan Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Kehadirannya dalam peringatan hari jadi yang mengusung tema Manunggal Winangun Caruban memberi perspektif baru. Di tengah paparan capaian pembangunan seperti penghargaan pengendalian inflasi dan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), Taufiq justru menyoroti tanah kosong dan tumpukan sampah.
Dari Lorong Sempit, Solusi Besar untuk Lingkungan
Wilayah yang dipimpin Taufiq hanya seluas 5.400 meter persegi, nyaris seluruhnya tertutup beton dan bangunan padat penduduk. Di lahan terbatas itu, ia bersama warga mengembangkan konsep Survival Architecture Indonesia.
"Kalau dari lorong sempit, harus lahir solusi besar," katanya di hadapan peserta sidang.
Ia mengaku iri melihat Kota Cirebon yang masih memiliki banyak tanah kosong yang belum dimanfaatkan secara produktif. Menurut Taufiq, persoalan lingkungan harus dilihat melalui tiga aspek sekaligus: people, profit, dan planet.
Sampah Organik Jadi Pakan Maggot dan Pupuk
Salah satu sumber daya yang paling sering diabaikan, kata Taufiq, adalah sampah rumah tangga. Ia menyebut sampah sebagai "tambang emas yang ada di depan mata."
Di lingkungan RT-nya, sisa makanan rumah tangga diolah melalui sistem terpadu yang melibatkan maggot, komposter, lubang resapan biopori, ayam petelur, ikan, hingga tanaman. Sampah organik diubah menjadi pakan maggot, kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ayam dan ikan. Hasil sampingnya menjadi pupuk yang membentuk siklus pangan sekaligus mengurangi volume sampah.
"Asal mulanya adalah sampah," ujarnya saat menjelaskan konsep tersebut.
Eco Edu Farm: Mengubah Pola Pikir Warga
Keberhasilan program lingkungan itu kemudian berkembang menjadi sistem yang lebih luas bernama Eco Edu Farm. Konsep ini menggabungkan edukasi, ketahanan pangan keluarga, penguatan ekonomi warga, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Taufiq menanam pohon selama 21 tahun dan mengolah kompos secara mandiri lebih dari satu dekade sebelum menjadi ketua RT. Menurut dia, tantangan terbesar bukanlah sarana atau pendanaan, melainkan mengubah pola pikir masyarakat.
Pemimpin lingkungan, katanya, harus mampu menjelaskan tujuan program sekaligus memberi teladan agar warga melihat manfaat nyata dan bersedia terlibat.
Apa yang Bisa Ditiru Kota Cirebon?
Pemkot Cirebon sengaja mengundang Taufiq untuk memberi perspektif baru menjelang usia kota yang ke-600 tahun. Dengan luas wilayah yang masih memiliki ruang terbuka, pengelolaan sampah dari sumbernya dinilai menjadi langkah strategis yang bisa segera diterapkan.
Konsep pengelolaan sampah organik berbasis RT itu dinilai relevan dengan program nasional pengendalian inflasi dan ketahanan pangan. Jika diterapkan secara massal, potensi pengurangan volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir bisa signifikan.