KARAWANG — Hasil polling yang berlangsung selama tiga hari di berbagai platform digital menunjukkan dinamika menarik terkait ekspektasi publik terhadap kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional (BGN). Dari ribuan responden yang terjaring, hanya 23 persen yang menilai penunjukan Nanik S Deyang sudah sesuai, sementara 15 persen lainnya memilih bersikap netral atau tidak tahu.
Angka keraguan yang tinggi ini tidak lantas membuat publik menutup pintu evaluasi. Sebanyak 71 persen responden sepakat untuk tidak terburu-buru menghakimi dan memberikan tenggat waktu enam bulan sebagai periode pembuktian. Seorang warganet di platform X menulis, "Wajar jika ada keraguan di awal karena latar belakang beliau. Tapi program gizi nasional ini terlalu penting untuk sekadar diributkan. Kita lihat saja kerjanya dalam enam bulan ke depan, apakah ada terobosan atau tidak." Komentar ini menjadi salah satu yang paling banyak mendapat dukungan.
Keraguan Muncul dari Latar Belakang Non-Teknis
Keraguan warganet disinyalir kuat terkait rekam jejak Nanik yang lebih banyak berkecimpung di dunia politik dan media, bukan sebagai ahli teknis di bidang pangan atau nutrisi. Namun, para pendukungnya berpendapat bahwa kemampuan manajerial dan kedekatan komunikasi dengan jajaran pemerintahan justru menjadi modal untuk menggerakkan birokrasi BGN yang masih tergolong lembaga baru.
Tiga PR Besar Menanti di Depan Mata
Pengamat kebijakan publik menilai angka enam bulan yang diminta warganet adalah waktu yang logis. "Itu adalah waktu standar untuk menilai apakah seorang pejabat baru mampu melakukan konsolidasi internal dan mengeksekusi program cepat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa jika dalam setengah tahun penyerapan anggaran macet dan distribusi berantakan, pemerintah harus siap mengevaluasi.
Setidaknya ada tiga pekerjaan rumah besar yang langsung menanti Nanik. Pertama, akselerasi Program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan validasi data penerima manfaat tanpa kebocoran anggaran. Kedua, sinergi lintas sektoral dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan pemerintah daerah. Ketiga, transparansi pengelolaan dana besar alokasi gizi nasional untuk meredam sentimen negatif publik.
Bola Panas Kini di Tangan Nanik S Deyang
Sikap publik yang memberikan target berbasis hasil dinilai sebagai bentuk kedewasaan berdemokrasi. Kini, seluruh perhatian tertuju pada Nanik S Deyang dan jajarannya. Apakah dalam enam bulan ke depan mereka mampu membalikkan keraguan menjadi apresiasi, atau justru membenarkan kekhawatiran mayoritas warganet di dunia maya.