JAWA BARAT — Pencapaian fantastis "Spider-Man: Brand New Day" bukan sekadar angka. Chairman dan CEO Sony Pictures Entertainment, Ravi Ahuja, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini justru berakar dari kekuatan emosional yang jarang ditemukan pada film superhero modern.
Berbicara dalam BofA Securities 2026 Media, Communications & Entertainment Conference di New York, Rabu (18/2), Ahuja mengakui pihaknya tidak memperkirakan film ini akan melesat sejauh itu. "Kami pikir film ini akan berkinerja luar biasa, tapi kami tidak tahu akan sehebat itu," ujarnya.
Ahuja menjelaskan bahwa sisi emosional menjadi pembeda utama "Spider-Man: Brand New Day" dibanding film superhero lain. "Filmnya sangat emosional... Masih sangat kental nuansa superhero-nya dengan banyak adegan aksi besar. Tapi film ini emosional. Beberapa orang keluar dari bioskop sambil menangis, dan itu jelas beresonansi dengan penonton," katanya.
Skor penonton yang tinggi di Rotten Tomatoes dan CinemaScore disebut Ahuja sebagai hasil kerja tim kreatif yang solid. Film ini mempertemukan sutradara Destin Daniel Cretton dengan jajaran pemain utama seperti Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Jon Bernthal, dan Sadie Sink.
Di belakang layar, produser Kevin Feige dan Amy Pascal disebut Ahuja melakukan pekerjaan luar biasa. Unit distribusi Sony Pictures Entertainment juga mencatat rekor dengan memutar film ini serentak di lebih dari 80.000 layar bioskop di seluruh dunia.
Menyoal sekuel, Ahuja belum bisa memastikan tanggal rilis. "Kami belum punya tanggalnya. Mungkin beberapa tahun lagi, biasanya begitu," katanya. Kabar baiknya, penggemar tak perlu menunggu terlalu lama untuk kembali ke dunia Spider-Man—film animasi "Spider-Verse" dijadwalkan rilis tahun depan.
Ahuja juga menyoroti posisi unik Spider-Man sebagai salah satu dari tiga waralaba terbesar SPE, bersama "Jeopardy!" dan "Wheel of Fortune". "Karakter Peter Parker punya daya tarik luar biasa. Tapi kamu harus mengeksekusinya dengan benar. Dan film ini benar-benar melakukannya," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ahuja memaparkan keunggulan SPE sebagai studio independen yang tidak memiliki layanan streaming sendiri. Kesepakatan eksklusif pay-one window dengan Netflix—yang pertama di industri—menjadi bukti strategi ini berjalan efektif.
"Kesepakatan ini memberi kami kepastian lebih dan kemampuan mengambil risiko kreatif. Kami tahu bagaimana hasilnya secara global ketika mencapai target box office tertentu," jelas Ahuja. Ia mencontohkan kesuksesan film animasi musikal "K-Pop Demon Hunters" yang dirilis Netflix pada 2025 dan berhasil membangun popularitasnya secara bertahap di platform tersebut.
Ahuja menegaskan SPE saat ini tidak tertarik melakukan merger dan akuisisi skala besar. Posisinya sebagai CEO dipegangnya sejak Januari 2025, setelah sebelumnya menjabat presiden dan COO SPE.